Udara sejuk pegunungan berhembus melalui lubang angin di atas pintu dan jendela kamar, berputar menembus kelambu, menyapu wajahku. Lembut menghibur hatiku … “Tuhan, tolong sembuhkan ayah …”  bisikku dalam hati. Tak terasa air mataku menyembul, mengalir dan menetes membasahi bantal kepalaku. Aku mengusap air mataku dengan punggung tanganku, dan membuka mata menatap langit-langit kelambu, pikiranku menerawang… hari ini tanggal berapa ya? HAH… tanggal SEPULUH! Hari terakhir bayar uang sekolah! Aku tersentak, jantungku serasa berhenti berdegup. Aku segera duduk, berdoa, membereskan tempat tidur dan bersiap-siap ke sekolah.

Setelah mandi dan sarapan, aku dan adikku masuk ke kamar orang tuaku. Bunda sedang duduk termangu di pinggir tempat tidur memandangi Ayah yang terbaring lemah.

“Bunda,” dengan suara setengah berbisik aku memanggil.  Bunda mengangkat kepala lalu bangkit dan perlahan berjalan ke arahku.

“Ya, ada apa? Mau berangkat?” tanya Bunda dengan suara pelan.

“Ria baru ingat hari ini tanggal sepuluh, Bu. Hari terakhir membayar uang sekolah,” kataku.

“ Oh, ya.” sahut Bunda sambil membuka pintu lemari pakaian lalu menarik laci tempat menyimpan uang,  mengambil dan menghitung uang yang ada. Bunda menghitung lagi, lalu sambil memandangi kami dengan pandangan sedih berkata, “Uang kita tinggal dua puluh dua ribu rupiah. Untuk ongkos kalian berdua enam ribu, jadi tinggal enam belas ribu rupiah. Bagaimana ini… salah satu perlu mengalah, siapa…?”

“Sari tidak mau, malu nanti namanya diumumkan di depan kelas dan takut kalau harus menghadap Kepala Sekolah,” kata adikku dengan mimik hampir menangis.

“Ya sama,” kataku. Sejenak aku berpikir… aku juga malu dan takut, tetapi sebagai kakak aku harus mengalah.

“Ya sudah untuk Sari dulu,” lanjutku kepada Bunda. Bunda memberi kami masing-masing tiga ribu rupiah, dan sebelas ribu lagi kepada Sari untuk uang sekolah yang cukup tinggi di tahun 1970-an.  Setelah berterimakasih, kami berpamitan dan Bunda mengantar kami ke ruang depan.

Ke luar pintu rumah, kami disambut oleh hembusan udara pagi yang segar dan kehangatan sang surya yang masih berada di ufuk timur. Di seberang tampak para petani sibuk mengerjakan sawah yang menghampar luas hingga kaki gunung Arjuna yang gagah menawan. Kota kelahiranku, Batu, memang kota pariwisata yang indah dan dikelilingi oleh beberapa gunung yang tampak sambung-menyambung.

Kami berdua menyeberang jalan dan menunggu angkot — kendaraan umum jurusan Batu-Malang. Setelah beberapa kali mengedangkan tangan,  akhirnya sebuah angkot berhenti. Kami berdua naik dan duduk di bangku panjang tambahan di belakang sopir, menghadap ke depan, berdesakkan dengan para penumpang. Sebagian besar adalah siswa Sekolah Menengah Atas yang bersekolah di kota Malang sama seperti kami.

Hhh… tanpa sadar mulutku menghembuskan dengan cepat napas yang kutahan sebentar, dadaku terasa sesak … ini pertama kalinya aku tidak bisa membayar uang sekolah… terbayang di benakku apa yang harus aku hadapi nanti… namaku diumumkan di hadapan teman-teman sekelas, lalu aku dipanggil menghadap Romo, Kepala Sekolah yang pelit senyum. Apa yang harus aku katakan? Air mata merebak, aku sekuat tenaga menahannya, aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembus pelan-pelan. Campur aduk rasanya…  Oh Tuhan, tolong… hanya Tuhan yang dapat menolong… aku membisikkan doa dalam hati.

(bersambung)

– eva kristiaman