Peristiwa tiga hari yang lalu masih segar di ingatan. Adegan demi adegan berputar, seperti sebuah film. Mulai dari perasaan tidak enak yang mendorongku menahan Ayah agar membatalkan rencananya ke Surabaya, tetapi Ayah malah bersikeras pergi mencari mobil sewaan untuk mengirim barang pesanan ke pabrik korek api di Surabaya. Aku berdoa agar Ayah tidak dapat mobil, tetapi Ayah malah mendapat mobil dengan tarif lebih murah dari biasanya dan langsung berangkat.

Bunda berulang kali menoleh melihat ke arah jam dinding, pukul sembilan belas… dua puluh… Ia berdiri memandang ke luar lewat jendela ruang tamu sambil komat-kamit membisikkan doa untuk Ayah yang belum pulang. Aku mengajak Bunda dan Sari berdoa bersama di kamar tidur depan, mohon Tuhan menghantar Ayah pulang dengan selamat.

Bel rumah berdering. Dua orang yang kami kenali tinggal di kota Batu dengan gugup menyampaikan kabar bahwa angkot yang mereka tumpangi tabrakan dengan angkot dari arah Batu, di Dinoyo. Ayah adalah salah satu penumpang yang terluka di tangannya. Setelah mereka pergi, tidak lama kemudian bel berdering lagi.

Seorang polisi menyampaikan kabar bahwa Ayah ada di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Malang, kena bagian kepalanya. Bunda bercucuran air mata dan bingung, Sari menangis, kami bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah, aku berusaha menenangkan mereka.

CIIIIITTT…!!!, bunyi rem mendadak diinjak. Badan semua penumpang tersentak condong ke depan, lamunanku buyar. Tepat di depan mobil nampak seorang ibu menggandeng anak kecil berdiri bingung dan pucat. “Hati-hati Bu kalau nyebrang!,” seru sopir angkot sambil melongokkan kepalanya ke luar jendela terbuka di samping kanannya. Ibu beserta anaknya itu tergopoh-gopoh menyeberang ke pasar Dinoyo. “Nyebrang kok maju-mundur…” gerutu pak sopir sambil menginjak gas, dan mobil yang aku tumpangi melaju lagi. “Hhhhh…” lega rasanya.

Aku menoleh ke jendela sebelah kanan, pandangan mataku mencari tembok yang hancur bekas ditabrak angkot yang ditumpangi Ayah tiga hari yang lalu. Mataku menangkap apa yang aku cari. Melihat itu aku jadi teringat cerita Ayah saat tabrakan terjadi.

Ayah duduk di bangku paling belakang sebelah kiri. Orang menganggap tempat itu paling aman. Tetapi siapa kira, tabrakan itu begitu keras hingga angkot yang ditumpangi terputar dan bagian belakang sebelah kiri menghantam tembok pendek yang menjorok di depan sebuah rumah yang ada di pinggir jalan itu.

Semua penumpang terkejut dan berteriak histeris serta berebut turun. Ayah merasa ada yang mengalir membasahi wajah dan badannya. Ternyata darah mengalir dari kepala dan pergelangan tangan. Segera Ayah memanggil bemo dan minta diantar ke Rumah Sakit Umum di Malang. Ia minta tolong kenek bemo membantunya mengikat lengan kuat-kuat dengan sapu tangan agar darah yang mengalir dihambat. Sekujur badannya bersimbah darah, Ayah hanya ingat kami, isteri dan anak-anaknya di rumah. Ayah terus berdoa… Tuhan tolong, Tuhan tolong saya.Tolong anak-isteri saya.

Segera di Unit Gawat Darurat, luka-luka akibat irisan kaca jendela mobil itu dijahit. Di kepala bagian kiri atas, di rahang bawah sebelah kiri hingga leher bagian atas, serta pergelangan tangan sebelah kiri dalam. Dokter yang menangani berkata, “Wah, Bapak sangat beruntung… kalau irisannya lebih dalam satu milimeter lagi, pasti Bapak tidak tertolong, karena tempatnya semua di nadi.” Mengingat itu mataku kembali berkaca-kaca… Tuhan sungguh baik dan berkuasa.

(bersambung)

– eva kristiaman