DEMPO!… DEMPO!!… YANG TURUN DEMPO!!! seru kenek angkot membuyarkan lamunanku. Sudah dekat, sekolah kami terletak di jalan Dempo, karena itu terkenal sebagai SMA Dempo. Aku menyerahkan ongkos untuk aku dan Sari pada kenek. DEMPO! DEMPO! Seru kenek itu lagi, agar kami yang mau turun bersiap-siap. Terdengar derit rem yang diinjak, angkot berhenti. Aku turun disusul Sari dan penumpang teman-teman satu sekolah.

Kami saling menyapa dan melempar senyum, lalu menyeberang jalan bersama-sama. Untuk sampai ke sekolah kami berjalan kaki kira-kira sepuluh menit lagi. “Hei, Sari!” panggil Mutiara teman sekelas adikku, setengah berlari mengejar kami. “Hei!” jawab adikku sambil menengok ke belakang dan memperlambat langkahnya. Segera mereka asyik mengobrol, tetapi aku teringat lagi masalah uang sekolah yang harus aku hadapi. Berulang kali aku menarik napas, berusaha menenangkan degup jantungku yang makin dekat sekolah, makin kencang.

“Yuk,” kataku pada Sari dan Mutiara sesampai di depan kelasku. Aku masuk kelas dan langsung menuju bangku paling depan ke dua dari kiri, tempat dudukku. Aku duduk dan membuka tasku, mengeluarkan alat tulis dan buku untuk pelajaran pertama, lalu memasukkan tas ke laci meja. Jantungku berdebar-debar, tanganku dingin berkeringat. Aku mengambil saputangan dari saku rok seragamku dan mengeringkan telapak tanganku. Tetapi tanganku basah lagi oleh keringat, aku keringkan lagi dan akhirnya kugenggam terus saputangan itu. “Tuhan tolong saya…,” bisikku dalam hati.

TEEETTT, TEEETTT… pelajaran pertama dimulai. Suara Pak Putu yang lantang dengan logat Bali yang kental itu, kadang-kadang masuk ke telingaku, kadang-kadang seolah hilang. Hari itu rasanya sulit menangkap dan mengerti apa yang diterangkan guru matematika yang hebat dan pandai mengajar itu.

GERRRR… teman-teman sekelas tertawa, aku tidak tahu apa humor dari Pak Putu. Detak-detik jam dinding serasa seirama dengan detak jantungku, berulang kali aku melirik jam dinding maupun jam tanganku. Waktu rasanya bergerak sangat lamban.

(bersambung…)

– eva kristiaman