TEEETTT… tanda istirahat selesai. Aku ke luar, berjalan menuju kelas, lalu masuk dan langsung duduk di bangku. Sekarang aku merasa lebih tenang. Pak Sudiro guru Bahasa Indonesia masuk. “Ya, terakhir kita sudah sampai mana?” Beliau mulai mengajar. TOK! TOK! TOK!… bunyi pintu diketuk. Pak Kris masuk. Degup jantungku tidak karuan. “Ria, ada? Ke kantor Kepala Sekolah sekarang juga.” Sekalipun suara Pak Kris tenang, aku merasa seperti disambar petir.

Aku berdiri, mengangguk pamit ke Pak Sudiro yang membalas dengan anggukan mengijinkan. … Tuhan beri hikmat kepada Ria… apa yang harus Ria katakan… tolong Tuhan, tolong Ria… doaku dalam hati sambil melangkahkan kaki menuju kantor Romo. Semakin dekat, debur detak jantungku semakin kencang.

TOK! TOK! TOK!… aku mengetuk pintu. Romo sedang menunduk menulis sesuatu di mejanya.

“Ya, masuk,” jawabnya sambil mengangkat kepala.

“Selamat siang, Romo,” salamku sambil melangkah masuk dan berhenti di depan mejanya.

“Kamu belum bayar uang sekolah. Kenapa?” Tanya Romo dengan nada dingin dan datar.

“Ayah saya kecelakaan, Romo.” Jawabku.

“Hmm. Mulai besok kamu tidak boleh masuk sekolah sampai bisa bayar. Mengerti?” Katanya tetap dengan tatapan dingin. Air mata mendesak ke luar, aku sangat terkejut.

“Romo, mana ada orang tua yang bisa membayar uang sekolah anaknya, tetapi tidak mau membayar uang sekolah anaknya. Saya tahu pasti uang kami di rumah tinggal berapa. Ayah saya kecelakaan tiga hari yang lalu dan belum bisa bekerja lagi.” Kataku sambil menatap Romo dengan mataku yang penuh air mata.

“Ya sudah, besok kamu membawa surat keterangan dari orang tuamu.” Jawabnya dengan suara lebih lembut, nampak matanya berkaca-kaca.

“Terimakasih Romo. Selamat siang.” Jawabku sambil mengangguk mohon diri.

Beliau menjawab salamku, aku melangkah ke luar dengan langkah ringan … terimakasih Tuhan, terimakasih Tuhan, … bisikku dalam hati, … Tuhan tolong agar Romo ini mengerti apa arti penderitaan…, lanjutku.

Empat hari kemudian aku dikejutkan oleh berita yang menggegerkan kota Batu. Seorang tukang susu menemukan kirimannya kemarin masih utuh di beranda rumah langganannya, sepasang kakek-nenek, tinggal dekat Sekolah Dasar-ku dulu. Karena sama-sama curiga, ia bersama tetangga kakek-nenek itu membuka pintu rumah yang ternyata tidak terkunci. Mereka menemukan suami isteri itu telah meninggal karena dibunuh. Dari ketujuh anak mereka, yang pertama kali menemukan orang tuanya dalam keadaan demikian adalah Romo Kepala Sekolah-ku. Sekolah diliburkan dua hari. Tuhan… hibur dan kuatkan Romo dan seluruh keluarganya…, doaku.

Sejak itu perubahan sikap Romo Kepala Sekolah-ku mengubah suasana di sekolah. Tuhan mendengar doa, Ia bersama kami melewati keadaan yang sulit, Tuhan sungguh baik dan berkuasa. Orang tuaku memulai usaha kripik singkong, sekarang cukup laris dan langganan bertambah banyak.

“Selamat pagi, Romo,” aku mengucapkan salam saat berpapasan di depan kantornya, suatu pagi.

“Selamat pagi,” sahut Romo dengan senyum tipisnya yang khas, “Bagaimana keadaan Ayah-mu? Sudah membaik?”

“Sudah Romo, terimakasih, Romo. Bagaimana keadaan Romo?”

“Baik, terimakasih. Sampaikan salam saya, ya.”

“Baik, Romo. Terimakasih. Mari, Romo.” Aku pamit dan menuju loket untuk membayar tunggakkan uang sekolahku.

– eva kristiaman