Kata ibadah dalam Perjanjian Baru (PB) diterjemahkan dari kata Yunani leitourgia (laos = rakyat, dan ergon = kerja), yang berarti kerja bakti yang dilakukan penduduk kota. Sejak abad ke-4 sM istilah itu dipakai untuk menggambarkan apa yang dibaktikan seseorang untuk kepentingan bersama. Ketika para penulis PB menggunakan kata ibadah memang tidak dimaksudkan untuk persoalan rohani belaka. Ibadah juga soal kerja bagi kepentingan banyak orang.

Dalam bukunya Bayang-bayang Ratu Adil, Sindhunata berkisah perihal wasiat seorang rahib Benediktin, yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit di sebuah biara.”Bila aku mati,” tutur rahib tersebut, ”aku tidak mau membawa apa-apa kecuali sebuah jarum jahit. Jika Allah bertanya, ’Apa yang kau kerjakan di dunia selama ini?’ Aku akan berkata bahwa kerjaku hanya menjahit. Namun, setiap kali menjahit aku selalu mengingat Engkau. Dan jarum jahit inilah buktinya!”

Dalam bahasa Arab pun, kata ibadah—bahasa Indonesia meminjam dari bahasa Arab—sama akar katanya dengan abudah, yang berarti kerja. Kerja juga ibadah.

Lagi pula, baik ibadah maupun abudah juga seakar kata dengan abduh yang berarti hamba. Bisa disimpulkan, sebagai abdullah—hamba Allah—setiap orang harus melakukan baik ibadah maupun abudah.

Berkenaan dengan ibadah hari Minggu dan abudah hari lainnya, Lukas menyatakan, jemaat mula-mula melakukan keduanya dengan gembira dan tulus hati.

lanjut…

– yoel indrasmoro