Dalam hidup, hati gembira merupakan modal utama. Memang gampang diomongkan, meski sulit dipraktikkan. Mungkinkah bergembira saat hati luka? Mungkinkah bergembira saat yang didamba berbeda dengan kenyataan? Mungkinkah bergembira di tengah derita?

Berkait dengan derita, Petrus menegaskan, ”Sebab adalah anugerah jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” (I Petrus 2:19).

Derita adalah anugerah. Tentu, yang dimaksud bukanlah derita akibat kesalahan sendiri, melainkan karena kehendak Allah. Derita semacam ini disebut anugerah karena kita beroleh kesempatan mengikuti jejak Kristus. Itulah yang seharusnya membuat umat bergembira: dilayakkan mengikuti jejak Kristus.

Meski demikian, pertanyaan yang sungguh layak diajukan: Apakah tidak ada alasan yang membuat kita bergembira?

Pandanglah surya kala pagi dan sore! Perhatikanlah rekahnya sekuntum mawar! Tengoklah ketenangan bayi yang lelap dalam dekapan bunda! Rasakanlah kasih dan perhatian orang-orang terdekat. Apakah Anda tidak merasakan kegembiraan ketika menyaksikan semuanya itu?

Pandanglah diri Anda sendiri! Bukankah Anda masih hidup hingga kini? Diri kita sesungguhnya bisa menjadi alasan kuat untuk bergembira. Dunia sudah cukup suram. Janganlah tambah kesuramannya dengan kesedihan Anda! Kegembiraan Anda akan membuat orang sekitar turut gembira.

lanjut…

– yoel indrasmoro