Jakarta, 1 Desember 2006. Saya berada dalam pesawat yang lepas landas meninggalkan tanah air dengan berbekal lagu ini di hati:

“Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh,
Ku dibimbing tangan Tuhan, ke negeri yang tak ku tahu,
Bapa ajar aku ikut, apa jua maksud-Mu,
Tak bersangsi, atau takut, beriman tetap teguh.

Dengan Bapa aku maju dalam malam yang kelam,
Ku dibimbing tangan Tuhan dengan mata terpejam.”

Dengan tiket sekali jalan, saya sungguh tidak tahu kapan akan kembali ke tanah air yang sangat saya cintai.

Sydney, 2 Desember 2006. Pesawat yang saya tumpangi mendarat dan saya melangkah dibimbing Tangan Tuhan menapakkan kaki di negeri ini. Tanpa uang, pekerjaan, dan rencana yang jelas, … benar-benar kelam. Tapi tetap harus melangkah maju.

Kaki saya melangkah maju tapi dengan duka yang mendalam. Serba salah, pesan menguatkan yang dikirim para sahabat dari tanah air malah membuat hati hancur berkeping karena rindu. Bagaimana bisa berjalan maju sambil menoleh ke belakang.

– eva kristiaman

(bersambung)