Yesus memang tak masuk hitungan. Salib menistakan harkat dan martabat manusia. Pemerintah Romawi mempraktikkan hukuman salib bagi budak, penduduk asli setempat, dan penjahat kelas rendah, dan jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah, menjatuhkan hukuman salib kepada warga negaranya sendiri.

Bagi kalangan Yahudi, salib merupakan lambang penghinaan. Menyalibkan penjahat dalam keadaan hidup tak dikenal dalam Perjanjian Lama. Hukuman mati biasanya dilaksanakan secara rajam. Ada kalanya mayat digantung pada sebatang pohon sebagai peringatan. Mayat dianggap terkutuk karena posisi tergantung ditafsirkan sebagai dibuang bumi, ditolak sorga. Baik manusia maupun Allah tidak berkenan menerimanya.

Sekali lagi, Yesus tak masuk hitungan. Di Bukit Tengkorak itu orang-orang memperlakukan-Nya sesuka hati. Dia disalib bersama dua penjahat—Yesus dianggap sejahat mereka.

Motivasi Pilatus mempertahankan alasan penyaliban itu—Raja orang Yahudi—bukankah olokan belaka? Dialah raja tanpa rakyat. Rakyat telah menolaknya.

Para prajurit itu pun mengambil keuntungan dengan membuang undi atas jubah-Nya. Jubah Yesus menjadi barang taruhan. Ada perjudian di sana. Mereka tidak memberikan jubah itu kepada sanak keluarga sebagai kenangan. Tidak. Mereka merampasnya.

Meski demikian, Yesaya menyatakan: Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes. 53:5).

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)