”Bagaimana Anda akan membeli dan menjual langit, juga kehangatan tanah? Gagasan ini sangat aneh bagi kami. Jika kita tak memiliki kesegaran udara dan kilauan air, bagaimana kita dapat menjualnya?”

Berkait dengan Hari Bumi, 22 April, penggalan pidato Kepala Suku Seattle (Ts’ial-la-kum) menjadi relevan di tengah pandangan manusia modern yang melihat alam sebagai komoditas.

Pidato yang diucapkan pada 1854 itu merupakan jawaban kepada Presiden Amerika Serikat ke-14, Franklin Pierce. Pemerintah berencana membeli tanah mereka dan berjanji memberi ”tanah perlindungan” sebagai gantinya.

Jual beli tanah terasa aneh dalam pandangan mereka karena, ”Setiap bagian bumi ini suci bagi rakyatku. Setiap jarum pinus yang berkilauan, pantai berpasir, kabut dalam hutan gelap, lapangan terbuka, dan serangga yang bersenandung adalah suci dalam kenangan dan pengalaman bangsaku.”

Dalam pemahaman suku Indian, alam itu suci. Kesucian alam tidak hanya menyentuh ranah pikiran dan perasaan mereka, namun merupakan pengalaman hidup sehari-hari.

Tak hanya itu. ”Bunga-bunga yang harum adalah saudara-saudara kami,” lanjut Kepala Suku Seattle, ”kijang, kuda, elang besar, semua ini adalah saudara-saudara kami. Puncak-puncak berbatu, air yang mengairi lembah, kehangatan tubuh anak kuda, dan manusia berasal dari keluarga yang sama.”

Bagi mereka, tumbuhan dan binatang adalah saudara. Semua makhluk hidup menghirup udara yang sama, yang disediakan oleh alam yang sama. Di situlah kekerabatan terjalin. Menjual alam berarti memperdagangkan kerabat sendiri.

Pemahaman macam begini mungkin aneh bagi manusia abad XXI, meski tidak terlalu aneh. Bukankah kita menyebut tanah tumpah darah dengan ”Ibu Pertiwi”? Tetapi, mengapa krisis lingkungan makin menjadi?

Kelihatannya, ”Ibu Pertiwi” hanyalah nama tanpa makna. Ada pula pendapat: ”Bukankah telah menjadi tugas ibu untuk memelihara anaknya tanpa pamrih?” Pandangan inilah yang kerap membuat manusia merasa bebas memeras bumi. Toh, sebagaimana lazimnya ibu, ”Ibu Pertiwi” tidak akan marah kepada anaknya sendiri.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)