Sang Ibu memang tak pernah bicara. Namun faktanya, bumi terasa kian panas saja dan tak lagi nyaman dihuni. Perubahan iklim yang begitu cepat—diikuti rentetan bencana—mengajak kita bercermin.

Krisis lingkungan, menurut sejarawan Lynn White, Jr., bersumber pada relasi antara manusia dan alam. Kerusakan alam menempatkan manusia sebagai terdakwa. Sehingga, penyelamatan bumi mesti diawali oleh perubahan sikap manusia.

Tentunya tak asal berubah, juga bukan tanpa dasar. Perubahan itu haruslah berdasarkan pembaruan budi (Rm. 12:2). Dan budi mencakup keutuhan manusia: apa yang dia pikir, rasa, dan tindak!

Tata cipta dunia

Penciptaan dunia (Kej. 1:26-31) menyatakan: (1) manusia merupakan bagian dari alam dan alam merupakan rumah bagi seluruh ciptaan; (2) manusia memiliki kedudukan di atas alam dan harus mengolahnya agar tetap hidup.

Namun, nas tersebut acap ditafsir sempit. Kata ”taklukanlah” dan ”berkuasalah” (ay. 28) malah dipahami manusia sebagai kesempatan berbuat semaunya. Arnold Toynbee menyatakan, nas tersebut memberi lisensi kepada manusia untuk berbuat sewenang-wenang atas alam dan akhirnya mendorong mekanisasi dan polusi. Toynbee juga menegaskan, gereja bertanggung jawab atas krisis lingkungan sekarang ini.

Pendapat itu bisa dipahami, meski kurang tepat. Toynbee melupakan kenyataan bahwa manusia berdosalah yang telah mengangkat dirinya sebagai ”Tuhan” atas alam. Pemberontakan manusia terhadap Allah (dosa) telah membuat manusia memusuhi bumi.

Lagi pula, kitab yang sama memperlihatkan tata cipta lain dengan tekanan berbeda. Allah menempatkan manusia di Eden untuk ”mengusahakan” dan ”memelihara” taman itu (Kej. 2:15). Kata ”mengusahakan” dan ”memelihara” kelihatannya dimaksudkan untuk menangkal ketamakan manusia. Sebagai gambar Allah, manusia diberi tanggung jawab untuk memayu hayuning bawana (menghiasi dunia).

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)