Sikap terhadap alam

Manusia diberi wewenang atas alam; serempak dengan itu manusia perlu menjaga kelestariannya. Fakta bahwa Allah menciptakan manusia setelah alam tercipta memperlihatkan bahwa manusia tak mungkin hidup tanpa alam.

Oleh karena itu, pertama, manusia harus berubah sikap dari ”penakluk” dan ”penguasa” menjadi ”pengusaha” dan ”pemelihara”. Manusia hanyalah mandataris dan bukan pemilik alam. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah, Pemberi mandat sekaligus Pemilik alam.

Kedua, manusia perlu menyadari hak generasi kemudian atas alam. Alam tak hanya berkat bagi generasi kini. Bumi bukanlah warisan, melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Mereka pun berhak atas bumi yang laik didiami.

Ketiga, manusia harus menghargai hak asasi makhluk lain atas alam. Bumi adalah ”rumah bersama”. Manusia tidak tinggal sendirian di bumi. Makhluk lain juga perlu ruang agar tetap hidup.

Untuk itu, perlulah disuarakan kembali harapan Kepala Suku Seattle, ”Bila kami menjual tanah kami, kasihilah mereka sebagaimana kami mengasihinya. Peliharalah sebagaimana kami telah memeliharanya. Peliharalah tanah ini untuk anak Anda, dan kasihilah… sebagaimana Allah mengasihi kami.”

Mengasihi bumi merupakan keniscayaan karena kehancurannya akan menyebabkan manusia menjadi tunawisma.

– yoel m. indrasmoro