Catatan Bagi Konsultasi Nasional GMKI 2008

”Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing.” (Yes. 11:6a)

Demikianlah nubuat sekaligus harapan Yesaya. Itu jugalah harapan sebagian besar masyarakat Indonesia: antarwarga negeri tak saling melenyapkan, namun memandang sebagai sesama.

Semua masalah bangsa ini jika ditelusuri, ujung-ujungnya ialah ketiadaan penghargaan terhadap martabat manusia. Manusia, mengutip Thomas Hobbes, telah menjadi serigala terhadap sesamanya. Dengan kata lain: pengingkaran sila kedua Pancasila ”Kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Dalam nubuat itu, Yesaya memperlihatkan adanya perubahan sikap. Yang kuat tidak meniadakan yang lemah. Kiasan yang digunakan unik, dan karena itulah menarik.

Serigala tetap serigala, tak pernah menjadi domba, namun perangainya berubah. Dia tak lagi menyantap domba. Serigala berubah tabiat, tak lagi karnivor. Kaum pemangsa menanggalkan kebiasaan memangsa dan hidup seperti mereka yang tadinya merupakan korban. Sekali lagi, bukankah ini harapan sebagian besar masyarakat kita?

Kualitas Sang Pemimpin

”Kemanusiaan yang adil dan beradab” merupakan pekerjaan rumah kita. Tentunya, segenap rakyat Indonesia berhak sekaligus berkewajiban menyelesaikan PR-nya. Tetapi, kunci perubahan terletak dalam diri pemimpin. Bagaimanapun, perubahan logisnya dimulai dari kepala.

Itulah visi Yesaya, yang menjadi nyata jika dan hanya jika seorang pemimpin tampil ke depan. Dia bukan sembarang orang. Inilah kualitas pribadinya: ”Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN….” (Yes. 11:2).

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)