Ebony and Ivory live together in perfect harmony. Side by side on my piano, keybord, oh Lord, why don’t we?

Demikian lirik awal lagu yang digubah dan dinyanyikan dua orang yang sungguh berbeda dalam pandangan manusia. Paul Mc. Cartney, warga negara Inggris, berkulit putih, sedangkan Stevie Wonder, warga negara Amerika Serikat keturunan negro, berkulit hitam. Yang satu tuna netra, yang lain tiada cacat pada matanya.

Semua perbedaan itu tidak menghalangi mereka dalam menciptakan dan menyanyikan lagu tersebut. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk bersikap membedakan, bahkan mendorong mereka bersatu dalam karya.

Sebagai musisi, mereka paham benar keberadaan bilah-bilah kayu eboni hitam dan gading putih yang berpadu sempurna menjadi tanda titi nada. Pertanyaan besarnya, sekaligus ungkapan keheranan, mengapa manusia tidak?

Pertanyaan dalam lagu tersebut melintas dalam benak kala menyaksikan aksi kekerasan, berlabel agama, di kawasan sekitar Monas di hari lahirnya Pancasila.

Hak dan Kewajiban Asasi Manusia

Kemajemukan Indonesia—yang terdiri atas beragam suku, bangsa, bahasa, juga agama—tak mungkin dipungkiri. Bagaimanakah sikap seorang Kristen terhadap kemajemukan agama di Indonesia?

Sikap terhadap agama-agama bertolak dari pemahaman bahwa agama merupakan suatu gejala manusiawi universal. Dalam diri manusia terdapat semacam kesadaran religius untuk berhubungan dengan Allah. Calvin menyebutnya benih keagamaan.

Setiap orang memilikinya karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Benih keagamaan itulah yang mendorong manusia menciptakan agama dan menjalaninya sebagai salah satu segi kehidupannya. Oleh karena itu, penghayatan keberagamaan sejatinya merupakan hak dan kewajiban asasi manusia, yang berasal dari Sang Pencipta.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)