Sang Pemimpin tidak mengikuti kemauannya sendiri. Roh Tuhan menguasainya. Dia menaruh kehendaknya di bawah otoritas Tuhan. Dia hidup seturut kehendak Tuhan.

Dia berhikmat sekaligus penuh pengertian. Tak sekadar pintar, juga punya hati. Masalah terbesar para pemimpin kerap di sini: saking logisnya, acap menyingkirkan nurani. Lebih parah lagi: membodohkan orang lain.

Dia cakap dalam pengambilan keputusan sekaligus melaksanakannya. Banyak orang jago memutuskan, tetapi tak cakap dalam pelaksanaan. Keputusan akhirnya tinggal keputusan, tanpa realisasi.

Dia mengenal kehendak Allah dan takwa kepada-Nya. Dia tahu kehendak Allah dan menjadikannya itu sebagai kehendaknya sendiri. Dia menyerahkan diri terhisap, terlibat, dan aktif dalam menjalankan kehendak Allah. Dia berbeda dengan golongan pemimpin yang tahu hal baik, namun tidak mengupayakannya!

Selanjutnya, kesenangan sang Pemimpin ialah takut akan Tuhan. Bagi dia, ketaatan bukan paksaan. Menjadi taat merupakan pilihan dalam kehendak bebasnya. Dan dia memilih untuk menjadi taat.

Dia juga tidak mengadili orang dengan sekilas pandang atau berdasarkan kata orang. Dalam pengambilan keputusan, pemimpin tersebut bertindak tegas terhadap dirinya sendiri. Dia tahu keterbatasannya. Dia tidak terjebak memuaskan nalurinya. Dia menahan diri dari prasangka. Semakin bijak orang, kadang malah tak mampu melihat masalah dengan jernih. Begitu percaya diri, hingga selalu merasa praduganya pasti benar.

Sang Pemimpin juga merasa perlu bertindak cover both side. Dia memerhatikan pertimbangan banyak pihak. Juga pihak-pihak yang berseberangan dengan dirinya. Dia berdiri di atas kepentingan semua pihak.

Dia bertindak adil. Yang salah, dihukum; yang benar, dibela. Dia tidak bertindak berdasarkan kepentingan-kepentingan pribadi. Dasar tindakannya ialah kebenaran dan keadilan.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)