Pengikut Kristus harus mengakui dan menghormati hak setiap orang untuk menentukan bagi dirinya sendiri agama yang hendak dipilih dan dianutnya. Di dalamnya tentu terkandung penghargaan atas kebebasan berpindah agama.

Kesadaran religius manusia memang tak musnah karena dosa. Namun, agama itu sendiri diciptakan manusia dalam kondisi dosa—manusia telah kehilangan persekutuan sejati dengan Allah. Dan agama-agama dapat menjadi ”benih awal” bagi manusia untuk menoleh kepada Yesus Kristus. Hanya dengan percaya kepada-Nya, manusia sampai kepada Allah.

”Kisah Orang Majus dari Timur” bisa menjadi contoh. Berdasarkan pengetahuan dan agama yang dianut, orang Majus tidak mempedulikan jarak, rintangan, dan bahaya, pergi ke Yerusalem untuk menyembah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mereka memahami bahwa Yesus lebih berkuasa dari raja-raja di dunia Timur. Mereka menyatakan ketaklukkan mereka dengan sujud dan mempersembahkan mas, kemenyan, dan mur.

Agama sendiri tidak menyelamatkan. Keselamatan, dalam pengertian pulihnya hubungan antara manusia dan Allah, hanya diperoleh di dalam penyelamatan yang dilakukan Allah sendiri. Di sinilah keunikan agama Kristen.

Agama Kristen diciptakan sebagai suatu sistem kehidupan religius berdasarkan penyelamatan Allah atas manusia. Keselamatan dipahami bukan karena upaya manusia, tetapi semata-mata karya Allah.

Karena itulah, bagi seorang Kristen, agama yang dianutnya merupakan wadah bahwa ia telah menerima penyelamatan Allah, sekaligus wadah untuk mengungkapkan dan menghayati hubungannya dengan Allah berdasarkan penyelamatan Allah itu.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)