Menjadi Taruk

Demikianlah kualitas sang Pemimpin, yang menurut A. Gianto dikiaskan bagai tunas yang keluar dari tunggul Isai dan taruk yang tumbuh dari pokok yang sama (Yes. 11:1,10).

Tunas tumbuh ke atas, bersemi menjadi dahan kuat dan akan menjadi pohon rindang dan berbuah. Taruk tumbuh ke bawah menjadi akar yang menunjang pohon. Dengan demikian pohon akan kekar. Itulah kiasan bagi pemimpin yang diharap-harapkan, yang berakar di kalangan masyarakat sekaligus menjadi tempat bernaung. Laju pertumbuhan baik tunas maupun taruk mesti sama. Jika tidak, tumbanglah pohonnya!

GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) dipanggil juga untuk menjadi tunas dan taruk. Banyak pihak senang menjadi tunas, yang kelihatan, terkenal, dan menjadi tempat bernaung. Pertanyaannya: maukah kita menjadi taruk, yang karyanya tidak terlihat?

Menjadi taruk berarti terus bergerak, menerobos kerasnya lapisan bumi, mencari air dan hara. Menjadi taruk berarti pula menyuplai air dan hara bagi pertumbuhan tanaman. Menjadi taruk berarti rela tak terlihat seperti garam dalam masakan.

Berkait dengan Indonesia, menjadi taruk berarti menawarkan nilai-nilai kristiani bagi pertumbuhan bangsa. Konsultasi Nasional seharusnya menjadi wahana-rembuk nilai-nilai yang menjawab kebutuhan Indonesia kini.

Reformasi menjadi tak keruan begini karena banyak pemimpin melupakan nilai-nilai kehidupan. GMKI punya modal besar selama tidak melupakan kata ”Kristen” dalam identitasnya.

Kata ”Kristen” yang disandang GMKI menuntut dirinya sendiri mengupayakan kualitas kepemimpinan Kristus—seperti nubuat Yesaya. Jika tidak, kata ”Kristen” yang disandang akan kosong tanpa makna. Lebih gawat lagi: hanya menjadi bahan cemoohan pihak lain.

Karena itu, GMKI perlu berseru kepada Yesus Kristus, Sang Kepala Gerakan, ”Jadikanlah kami taruk bangsa!”

– yoel m. indrasmoro