Judul di atas—juga merupakan judul sebuah lagu—menggambarkan situasi Indonesia yang makin berantakan.

Di tengah harga-harga yang kian membubung, tersiar kabar: seorang anggota DPR lagi-lagi ditangkap KPK. Kisah pastilah berlanjut dengan penangkapan lebih banyak orang. Tindak korupsi tak mungkin dilakukan seorang diri.

Berita terakhir: polisi menemukan 20 bom di Palembang. Peristiwa itu mungkin membuat kita bertanya getir, ”Apa jadinya, jika bom itu meledak? Mengapa ada sekelompok orang berkarier sebagai teroris? Tak inginkah mereka melihat negeri ini aman? Kapan kemelut ini berakhir?”

Datanglah Kerajaan-Mu

Situasi negeri yang centang perenang itu tampak pula pada lagu Dalam Dunia Penuh Kerusuhan. Inilah bait pertamanya: ”Dalam dunia penuh kerusuhan, di tengah kemelut permusuhan datanglah Kerajaan-Mu; di Gereja yang harus bersatu, agar nyata manusia baru, datanglah Kerajaan-Mu.” (Kidung Jemaat 260).

H. A. van Dop, sang penggubah, terlihat sengaja membandingkan antara ”dunia yang penuh kerusuhan dan permusuhan” dan ”Gereja yang harus bersatu”. Kerusuhan dan permusuhan merupakan masalah konkret. Dan Gereja yang harus bersatu adalah jawabannya.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)