Sebab, apa artinya Gereja kalau tidak bersatu? Bukankah Gereja merupakan persekutuan manusia baru? Bila tiada keinginan menyatu, masih layakkah disebut manusia baru? Lagi pula, Gereja diutus ke dunia. Jika Gereja malah gontok-gontokan, efektifkah pengutusannya?

Dunia yang rusuh butuh teladan. Gereja bisa menjadi teladan jika dan hanya jika bersatu. Tentulah tak cuma kesatuan fisik, yang kasat mata, juga kesatuan rohani.

Kesatuan rohani sebagai bangsa perlu ditumbuhkan karena di situlah akar masalahnya. Korupsi di bidang apa pun bersumber dari rohani manusia berdasarkan hubungan dengan Khaliknya.

Baik dalam dunia yang rusuh maupun Gereja yang rukun, kita memohon: ”Datanglah Kerajaan-Mu!” Perhatikan ”Mu” yang digunakan! Kerusuhan dan permusuhan mencuat kala seseorang (”mu”) berusaha menaklukkan sesama dan mendirikan kerajaan sendiri.

Oleh karena itu, manusia perlu kembali ke fitrahnya sebagai abdullah, hamba Allah. Ketika Allah menjadi raja, manusia tak perlu saling mengalahkan. Sebaliknya, saling melayani yang membuahkan harmoni.

Kerajaan Allah mencakup ranah sekuler maupun rohani. Sangat tak masuk akal membatasi atau melokalisasi Allah pada suatu wilayah. Misalnya: Allah hanya boleh di Gereja, dan menolak Dia mencampuri urusan kita.

Atau, manusia melokalisasi Allah pada waktu tertentu. Hari Minggu—sesuai namanya yang berarti hari Tuhan—berada dalam wilayah kedaulatan Allah, sedang hari lainnya di bawah penguasaan manusia. Hal ini sama absurdnya.

Tak mungkin mengerangkeng Allah dalam dimensi ruang dan waktu. Sebab, Dialah pencipta keduanya. Allahlah Raja yang menguasai baik ruang maupun waktu.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)