Merasa Kaya

Tak perlu menunggu kaya untuk memberi. Dalam kemiskinan seseorang bisa memerdekakan orang lain. Jika nunggu kaya, mungkin kita takkan pernah memberi karena enggak pernah merasa kaya.

Kaya atau miskin sesungguhnya masalah perasaan. Ada orang kaya yang merasa miskin, sehingga tidak pernah memberi apa pun. Bagaimana mungkin memberi kalau dia merasa harus mendapatkan sesuatu dari orang lain?

Sebaliknya, hanya orang yang merasa kayalah yang mampu memberi. Mungkin dia miskin, namun merasa kaya. Perasaan itulah yang membuatnya mampu memberi.

Kala mengenang keluarga Hindu tersebut, Ibu Teresa bersaksi: ”Saya tidak terkejut dengan sikap wanita itu yang mau berbagi, melainkan saya terkejut karena wanita itu masih mau memahami tetangganya yang kelaparan.”

Mau memahami merupakan frasa kunci dalam memberi, yang berawal pada kepekaan nurani. Kepekaan terhadap sekitar memampukan keluarga Hindu itu memberikan sesuatu saat mereka memilikinya.

Soalnya: tak banyak orang yang peka terhadap situasi sekitar, apalagi memahaminya. Ketidakpedulian merupakan persoalan besar dalam diri manusia. Dan kemiskinan, dalam arti merasa diri miskin, kadang menjadi dalih.

Padahal, miskin berarti—mengutip nasihat Nyonya Ogawa kepada anaknya Aiko dalam cerita anak Aiko di Tokyo—tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Dengan kata lain, kita tidak miskin selama masih mempunyai sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain.

Persoalan kemanusiaan Indonesia terbesar sekarang ini ialah lebih banyak orang yang merasa miskin ketimbang yang merasa kaya. Pelaku tindak korupsi kebanyakan bukan orang miskin, melainkan si kaya yang merasa miskin!

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)