TEEETTT… bel berbunyi tanda pelajaran pertama berakhir, Pak Putu meninggalkan kelas. Aku menarik tas dari laci dan membukanya, memasukkan buku matematika dan mengeluarkan buku Analit. Kelas yang riuh dengan canda teman-teman, tiba-tiba senyap karena Romo Kepala Sekolah muncul di ambang pintu dan melangkah masuk untuk mengajar kami.

“Selamat pagi, Romooo…,”  kami memberi salam seperti koor.

“Selamat pagi,” jawabnya singkat tanpa senyum, menuju meja guru. Lalu ia berdiri menghadap kami. Dari balik kacamatanya beliau memandangi kami satu per satu, detak jantungku serasa lebih cepat dari detak jam dinding, tanganku kembali dingin berkeringat. Beliau berjalan dan berdiri dekat mejaku, “PR-nya sudah dibuat belum? Ayo kamu Ratna ke depan. Kerjakan nomor satu. Andi ke depan, kerjakan nomor dua.” Katanya lagi dengan dingin dan datar, lalu berjalan perlahan ke deretan bangku paling belakang.

TEEETTT… TEEETTT…
bel istirahat, kami merapikan semua buku dan memasukkannya ke tas. Romo meninggalkan kelas dan kami pun berhamburan ke luar. Sherly, Dewi dan Gina mengajakku ke kantin sekolah, aku menggeleng, “Aku tunggu saja di sini,” kataku di depan Majalah Dinding. “Ya sudah,” kata mereka sambil terus berjalan menuju kantin. Aku membalikkan badan dan membaca artikel di Majalah Dinding. Tetapi aku hanya memandangi huruf-huruf dan pikiranku kembali ke soal uang sekolah. Biasanya setelah istirahat, Pak Kris, Tata Usaha sekolah, akan masuk dari kelas ke kelas untuk menyebut nama murid yang  dipanggil menghadap Kepala Sekolah karena belum bayar uang sekolah. Huruf-huruf nampak buram karena air mata merebak di mataku, aku tetap menengadah ke artikel di depanku sambil berusaha menahan air mataku jangan jatuh. Aku lari ke WC, langsung masuk ke salah satu ruang WC, menutup pintunya. Aku mengusap air mataku dengan sapu tangan… Tuhan tolong Ria, tolong beri ketenangan pada Ria…

– eva kristiaman

(bersambung)