Sang bunda tak menggubris tawaran tersebut. Hatinya telah dibakar dendam kesumat. Setengah kerajaan tak cukup memadamkannya. Di mata Herodias, Yohanes Pembaptis harus mati.

Dendam Herodias memijar kala Yohanes Pembaptis mengkritik perkawinannya dengan Herodes. Di mata sang nabi, perkawinan itu haram hukumnya karena Herodias berstatus istri Filipus, sepupu Herodes sendiri. Herodias tak terima kritikan tersebut. Cita-citanya satu: kematian Yohanes Pembaptis.

Herodes tahu dendam permasurinya. Dia pun tak menyukai Yohanes Pembaptis. Namun, raja hanya menangkap dan enggan membunuhnya. Lagi pula, kritikan itu bukan tanpa dasar.

Skandal perkawinan raja telah menjadi rahasia umum. Namun, tak seorang pun berani menegur. Yohanes Pembaptis beda. Di tengah masyarakat serba korup, Yohanes Pembaptis tetap tegar mengumandangkan kebenaran. Dia menegur orang tanpa melihat jabatan. Dia berpedoman: kebenaran dinyatakan apa pun resikonya.

Sebagai nabi, penyambung suara Allah, Yohanes Pembaptis hanya memenuhi panggilannya. Dia tak mau kompromi. Prinsip itulah yang membawanya ke penjara.

Herodes tak berani bertindak gegabah. Bagaimanapun, Yohanes Pembaptis mengatakan apa adanya. Di mata raja, Yohanes Pembaptis seorang yang benar dan suci. Karena itulah, raja ingin melindunginya dari kematian.

Upaya itu gugur karena raja tak mampu memelihara lidahnya. Dia telah berjanji, bahkan bersumpah. Ketika anak perempuan Herodias, atas bujukan ibunya, meminta kepala Yohanes Pembaptis, Herodes bak makan buah simalakama.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)