Pertaruhan Gengsi

Pada titik ini: gengsi sedang dipertaruhkan. Herodes sadar, dia akan menjadi bahan tertawaan jika menolak permintaan itu. Bukankah aib namanya kalau seorang raja menelan ludah sendiri?

Raja tak mau menelan ludah sendiri. Herodes tak mau kehilangan gengsi. Dia tidak mau ditertawakan. Dan pesta pun berakhir tragis: kepala seorang nabi tergolek di talam.

Yohanes Pembaptis tak lagi bisa bersuara. Dia mati bukan karena tindak subversib, bukan karena gugur di medan perang, melainkan karena sang raja tak sudi meralat sabdanya.

Herodes lebih mempertahankan gengsi. Padahal, sebagai raja, dia bisa membatalkan janjinya. Dia memang perlu minta maaf karena telanjur berjanji. Tetapi, permintaan memenggal kepala orang tanpa sebab merupakan kejahatan. Dan Herodes bisa saja menegur anak perempuan Herodias itu karena telah meminjam tangan raja untuk mewujudkan maksud jahatnya.

Tetapi, lagi-lagi sang raja tidak mampu memelihara lidahnya. Untuk minta maaf pun, raja tak punya nyali. Apalagi menegur gadis tersebut! Penginjil Markus mencatat: ”Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes.”

Kata segera yang dipakai penulis memperlihatkan bahwa raja memang tak mampu memelihara lidahnya. Untuk sebuah keputusan hukuman mati bagi rakyatnya sendiri—bahkan orang yang dihormatinya—raja enggan berpikir panjang. Semua serba cepat dan demi gengsi. Raja lebih mengutamakan emosinya.

Agaknya, persoalan terbesar raja bukanlah tak mampu, melainkan tak mau memelihara lidahnya. Dan karena raja kurang bijak menggunakan lidahnya, ada yang mati di tengah pesta itu!

– yoel m. indrasmoro