Augustinus heran menyaksikan Monika, ibunya, setiap hari berdoa baginya. Ibunya mendoakan keselamatan dirinya. Sang Ibu berharap anaknya menjadi Kristen.

Augustinus lahir dalam keluarga beda agama. Ibunya seorang Kristen, sedangkan Patricius, ayahnya, menjadi katekumen di akhir hidupnya.

Sebagai orang yang dididik dalam budaya Yunani, tak mudah bagi Augustinus memahami iman Kristen yang dianut ibunya. Tak masuk di akalnya, manusia seperti dirinya membutuhkan Juruselamat.

Lebih tak masuk di akalnya lagi, Sang Juruselamat itu ternyata hanya manusia biasa. Saat disalib pun, Orang Nazaret itu tampak tak berdaya di bawah kuasa Romawi. Layakkah disebut Juruselamat dunia, jika Yesus sendiri gagal menyelamatkan diri dari siksa salib?

Namun sejarah mencatat, Augustinus akhirnya menjadi Kristen pada usia 32 tahun. Tak hanya Kristen, malah menjadi Uskup di Hippo. Dia dikenal sebagai peletak dasar-dasar kekristenan modern dan menjadi tokoh Kristen berpengaruh sekitar abad ke-4.

Doa Ibu

Dalam bukunya Confessiones, Pengakuan-Pengakuan, Augustinus menulis: ”Wanita itu dengan air matanya meminta kepada-Mu bukan emas atau perak, bukan salah satu harta yang fana dan berubah-ubah, melainkan keselamatan jiwa anaknya.”

Augustinus sadar, berkat doa dan kesalehan ibunya—setelah menganut agama-agama lain—dia menjadi Kristen.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)