Menarik disimak, bagaimana pewarisan iman di Israel. Ketika seorang anak laki-laki melihat dan menirukan ayahnya mencangkul, ia diberi tahu bahwa hal itu dilakukan sebagai ketaatan kepada perintah Allah untuk mengelola bumi, yang adalah milik Allah. Jika seorang anak perempuan belajar membuat roti atau memasak, ia diberi tahu bahwa itu dilakukan dalam rangka mematuhi perintah Allah agar manusia memelihara hidupnya dengan sehat. Orang tua memperkenalkan Allah kepada anak melalui praktik hidup.

Agaknya, ada kaitan erat antara sikap orang tua dan pandangan anak tentang Allah. Mangunwijaya pernah menggambarkan hubungan keduanya. Jika orang tua otoriter, maka dalam benak anak, Allah adalah seorang yang sewenang-wenang. Allah adalah diktator, yang akan menghukum setiap kesalahan tanpa ampun.

Akhirnya, gambaran itulah yang berkembang dalam tindakan agamaniah anak tersebut hingga dewasa. Dia menjalani kewajiban agamanya, bukan karena dia sungguh ingin melakukannya, tetapi karena takut dihukum.

Jika demikian, keteladanan menjadi mutlak perlu dalam pewarisan nilai kristiani. Keluarga seharusnya tidak hanya tempat di mana iman itu diyakini dengan perasaan dan akal budi, tetapi juga dipraktikkan.

Artinya, tiada senjang antara yang diyakini dan yang diperbuat. Tak ada beda antara omongan dan tindakan. Hanya dengan cara itulah, anak akan sungguh mengenal Kristus. Selanjutnya, dia akan memperkenalkan Kristus kepada keturunan berikutnya.

Sehingga, makin banyak orang yang mampu bersaksi sekaligus bernyanyi, dengan sedikit perubahan, lagu Peter Bilhorn: Di doa ayah bundaku, ada namaku disebut.

-yoel m. indrasmoro