Tajuk di atas—tema Natal PGI-KWI 2008—awalnya merupakan nasihat Paulus kepada umat di Roma. Di tengah budaya plural-metropolis, umat didorong untuk mengambil langkah aktif dalam hidup bermasyarakat.

Dalam kehidupan berbangsa, tema itu semakin penting dan bermakna. Makin hari suasana ”damai” makin jauh panggang dari api. Simaklah surat kabar! Mudahkah mencari kedamaian di sana?

SITUASI SERBARESAH

Krisis ekonomi di Amerika tak hanya mengancam negeri adidaya itu. Negara-negara kaya, apa lagi negara kayak Indonesia, pun terkena imbasnya. Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menyebabkan para pengusaha ketar-ketir. Para buruh—lebih tak nyaman lagi—resah di bawah ancaman PHK.

Di bidang pertanian, petani kelapa sawit menjerit di tengah turunnya harga tandan buah segar. Bahkan ada yang bunuh diri karena stres. Kelangkaan pupuk bersubsidi menyebabkan petani resah di bawah ancaman gagal panen.

Kriminalitas pun menjadi-jadi. Kesesakan hidup dianggap lisensi. Orang makin mudah terprovokasi. Tak pikir panjang lagi. Yang penting perut kenyang! Di tingkat elite tindak korupsi makin menggila. Terkesan nggak ada matinye!

Dalam situasi serbaresah itulah, nasihat Paulus itu kembali digemakan: ”Hiduplah Dalam Perdamaian Dengan Semua Orang.” (Roma 12:18).

KARYA AKTIF

Dalam kata ”hiduplah” terkandung usaha, juga tersirat pilihan. Diri sendirilah yang bertanggung jawab memilih dan mengusahakan. Hidup kita memang bukan milik orang lain.

Kedamaian tak muncul begitu saja, namun karya aktif manusia. Tak juga instan. Butuh kerja keras. Suasana damai merupakan proses yang perlu dihadirkan secara serius dan fokus.

Damai yang dimaksud tentu bukan sekadar tiada perang. Lebih hakiki, apakah perilaku kita membuat damai orang lain? Atau, malah membuat resah!

Paulus juga menasihati umat agar tidak pilih-pilih tebu. Damai yang ditawarkan hendaklah bisa dinikmati semua orang. Jadi, bukan untuk kalangan sendiri.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)