BELAJAR BERSYUKUR

Semuanya itu dimulai dari diri sendiri! Kita perlu berdamai dahulu dengan diri sendiri. Mustahil berdamai dengan orang lain, jika kita belum berdamai dengan diri sendiri.

Setiap orang yang belum mampu menerima kelemahan diri, pastilah sulit menerima kelemahan orang lain. Dia akan cenderung mencari kambing hitam. Semua orang serbasalah di matanya.

Sebaliknya, sulit bagi seseorang menerima kekuatan orang lain, jika dia belum menerima—atau belum menemukan—kekuatan dirinya. Dia mudah iri kala melihat kesuksesan orang lain.

Keserakahan—jika ditelusuri—berakar pada ketidakmampuan berdamai dengan keadaan diri sendiri. Ketidakmampuan bersyukur menjadikan orang—mumpung ada kesempatan—berlaku korup. Ujung-ujungnya: orang lain menderita!

Jika seseorang mampu mensyukuri berkat Tuhan, dia tak perlu lagi menjadi serigala terhadap sesamanya. Kedamaian bukan lagi utopia!

Kedamaian berawal pada kemampuan diri mensyukuri keberadaan diri sebagai karunia Tuhan! Belajar bersyukur mutlak perlu dalam hidup bersama dengan orang lain.

BELAJAR DARI KELUARGA KUDUS

Keluarga kudus bisa menjadi teladan. Yusuf, suami Maria, merupakan pribadi yang tak suka mencari kambing hitam. Dia juga tak ingin menang sendiri. Dia berupaya hidup berdamai orang lain, meski menyakitkan hatinya. Dia memilih sakit, ketimbang menyakiti.

Dengan ikhlas, Yusuf memutuskan pertunangannya dengan Maria secara diam-diam. Dia tidak mau ribut, juga tidak menyalahkan tunangannya. Dia berupaya untuk tidak melukai hati Maria.

Yusuf tidak merasa perlu membalas dendam. Dia juga tak ingin membuat sensasi dan mengharap belas kasihan orang. Agaknya, Yusuf telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Penginjil Matius mencatat, hatinya tulus. Kenyataannya, dia memang mampu bersikap siap kehilangan. Bahkan kehilangan harga diri.

Kepada pribadi demikianlah, Allah menyingkapkan visi-Nya: ”Anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus”. Akhirnya, Yusuf pun mantap menjalankan tugas sebagai Bapak Hukum bagi Yesus.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)