Maria tak beda dengan Yusuf. Para penginjil tidak menceritakan pembelaan diri Maria. Dia juga tak mau membuat sensasi. Membela diri memang tak salah. Tetapi—berkait dengan kehamilannya—siapa pula yang mau dan mampu percaya!

Maria telah berdamai dengan dirinya. Dia tahu, Allah menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Allah memiliki visi. Ketika Allah memilihnya menjadi wahana kehadiran Raja Damai, Maria tidak menolak. Sebagai hamba Allah, dia mengambil sikap taat menjalani visi Allah.

Sewaktu Maria berdamai dengan dirinya, tak sulit baginya berdamai dengan Yusuf. Tentu, dia mengetahui rencana Yusuf. Maria pun tak berontak. Dia hanya diam. Pada saat itulah Allah campur tangan.

Campur tangan Allah menguatkan Yusuf, juga Maria, untuk saling berdamai. Campur tangan Allah memampukan Yusuf, juga Maria, taat sebagai hamba Allah. Campur tangan Allah mengubah Yusuf, juga Maria, menjadi baru seturut citra-Nya. Campur tangan Allah membuktikan, nama-Nya sungguh Imanuel—Allah menyertai.

Tak hanya di masa lampau di Yudea. Juga kini dan di sini. Nama-Nya tetaplah Imanuel. Dia beserta Saudara dan saya kini dan selamanya.

– yoel m. indrasmoro