Masih ingat pensil jaman dulu? Di pangkalnya selalu ada setipnya. Ah, yang modern juga. Baru-baru ini seorang sahabat menghadiahi saya sebuah alat tulis bermerek yang fungsinya “3 in 1” (pensil, bolpen, pda), di pangkalnya ternyata ada setipnya juga.

Ada pensil, ada setip. Itu berarti setiap orang bisa salah tulis, karenanya membutuhkan setip untuk menghapus yang salah, supaya dapat mengganti dengan yang benar.

Seperti pensil dan setip. Setiap orang yang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, ingin “menyetip”, menghapus kesalahan itu hingga bersih tak berbekas. Membutuhkan pengampunan.

Saya membutuhkan pengampunan Allah dalam Yesus Kristus. Darah Kristus menghapus noda dan kesalahan saya, agar saya dapat memulai hidup yang baru bersama-Nya.

Saat saya datang kepada Kristus dan menyembah Dia, serta mohon pengampunan-Nya, Ia mengampuni saya. Ia menghapus kesalahan saya dan “Sudah genap!”, sudah selesai. Itu berarti sudah selesai juga buat saya.

Namun betapa sering setelah itu kita tetap memperlakukan diri kita dan juga orang lain seperti pensil tanpa setip, bahkan seakan-akan tidak dapat dihapus. Kita selalu mengingat kesalahan-kesalahan, dosa dan kegagalan yang pernah kita perbuat. Kita selalu ingat kesalahan, dosa dan kegagalan yang pernah orang lain perbuat.

Saat kita datang pada Kristus dan menyembah Dia, dengan pengampunan-Nya yang kita telah terima, kita dimampukan untuk mengampuni kesalahan orang lain. Itu berarti kita telah menghapusnya, dan sudah selesai, oleh anugerah Allah. Selesai bagi kita, juga bagi mereka.

Apakah kita memiliki pensil beserta setipnya? Apakah kita bukan hanya menggunakan pensilnya, tapi juga setipnya, dengan baik?

Kristus datang bukan untuk menghukum,
Melainkan menghapus dosaku.

– eva kristiaman