“Kami anggota-anggota Konferensi Pembentoekan Dewan Geredja-geredja di Indonesia, mengoemoemkan dengan ini, bahwa sekarang Dewan Geredja-geredja di Indonesia telah diperdirikan, sebagai tempat  permoesjawaratan dan oesaha bersama dari Geredja-geredja di Indonesia.”

Demikian manifestasi pembentukan DGI—sejak Sidang Raya X 1984 berubah nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja Kristen di Indonesia (PGI)—yang ditetapkan pada sidang 25 Mei 1950.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Para manifestor menegaskan: ”Kami pertjaja, bahwa Dewan Geredja-Geredja di Indonesia adalah karoenia Allah bagi kami di Indonesia sebagai soeatoe tanda keesaan Kristen jang benar menoedjoe pada pembentoekan satoe Geredja di Indonesia menoeroet amanat Jesoes Kristoes, Toehan dan Kepala Geredja, kepada oematNja, oentoek kemoeliaan nama Toehan dalam doenia ini.”

Dasar pendiriannya ialah kepercayaan bahwa PGI merupakan suatu tanda keesaan, bukan satu-satunya, sesuai amanat Kepala Gereja. Dan kenyataan hidup bergereja di Indonesia memperlihatkan betapa sulitnya menjadi tanda keesaan itu.

Tak heran, berkenaan dengan 58 tahun PGI, gereja-gereja anggota PGI serentak menggunakan Tata Ibadah Minggu yang sama di bawah tema: ”Supaya Kamu Erat Bersatu dan Sehati Sepikir.” (I Kor. 1:10b).

Kristus Tidak Terbagi-bagi

”Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” (I Kor. 1:13). Serangkaian pertanyaan retorik ini merupakan tanggapan Paulus atas perselisihan yang terjadi di jemaat Korintus.

Pada masa itu Korintus merupakan kota pelabuhan penting dan ramai. Menurut John Drane (Memahami Perjanjian Baru), di jalan-jalan kota Korintus, prajurit-prajurit Roma, para mistikus dari Timur, orang Yahudi dari Palestina selalu bertemu dengan para filsuf Yunani.

Ketika Paulus memberitakan Injil di sana, berbagai lapisan masyarakat kosmopolitan itu memberi tanggapannya dengan membentuk jemaat. Orang-orang dengan latar belakang rohani dan intelektual yang beragam itu juga membawa pandangan dan gagasan mereka.

Sewaktu Paulus bersama mereka, keragaman jemaat muda itu bisa dipersatukan. Namun, sejak kepergian Paulus orang-orang Kristen baru itu mulai merenungkan bagi diri mereka sendiri implikasi-implikasi iman Kristen. Dengan sendirinya mereka memperoleh jawaban berbeda-beda. Dan menjadi masalah kala suatu kelompok menganggap diri paling benar.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)