Jemaat akhirnya terbagi-bagi dalam: ”kelompok Paulus”—kaum liberal—yang mengajak warga jemaat berbuat sesuka hati; ”kelompok Kefas”— kaum legalis—yang mempersoalkan makanan halal dan haram; ”kelompok Apolos”— kaum filsuf—yang merasa memiliki hikmat; dan ”kelompok Kristus”—kaum mistikus—yang menyatakan bahwa sakramen-sakramen bersifat adikodrati.

Menarik disimak, di awal suratnya itu Paulus tidak menempatkan diri sebagai hakim atas kelompok yang berselisih. Dia tidak menyalahkan atau membenarkan pendapat, namun mengajak mereka mengarahkan pandang kepada Kristus.

Kekristenan, mengutip Dietrich Bonhoeffer, berarti persekutuan melalui dan dalam Yesus Kristus. Dalam Kristus, persekutuan merupakan keniscayaan mutlak karena Kristus memang tidak terbagi-bagi. Oleh karena itu, absurdlah tindakan membuat garis pemisah di antara sesama Kristen.

Lagi pula, lanjut Bonhoeffer, persekutuan Kristen bukanlah suatu ideal, tetapi kenyataan ilahi; persekutuan Kristen merupakan kenyataan rohani, bukan psikologis. Dengan kata lain, persekutuan Kristen merupakan karya Allah.

Sehati sepikir

Selanjutnya, Paulus menasihati mereka yang bertikai agar sehati sepikir. Nasihat yang logis karena tak mudah bagi manusia untuk satu hati dan satu pikir. Bukankah rambut sama hitam, pendapat berbeda?

Hati dan pikir merupakan inti kemanusiaan. Hati berkaitan dengan rasa, pikir berkaitan dengan logika. Paulus tidak menekankan salah satu: sehati saja atau sepikir saja. Bukan ini atau itu, namun keduanya sekaligus.

Hanya rasa, akan membuat seseorang takut mengajukan pendapat yang menyinggung orang lain. Hanya logika, mungkin membuat orang lain sungguh-sungguh tersinggung. Oleh karena itu, Paulus menasihati mereka untuk mengupayakan kesehatian dan kesepikiran.

Sewaktu rasa menguasai diri, baiklah pikiran mengendalikannya. Sebaliknya, sebelum mengajukan kritik, baiklah hati bertanya, ”Bagaimana menyampaikannya?” Ketakarifan sering membuat pesan, sebaik apa pun, tak sampai. Sehati sepikir berarti juga memercayai kejernihan pikir dan kebersihan hati orang lain!

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)