Ketika Yesus makin dekat dengan Yerusalem, dan melihat kota itu, Ia menangisinya.

(Luk. 19:41, Alkitab—BIM)

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun tak mudah mencari damai di sana.

Herodes Agung pernah bertakhta di singgasana. Dialah yang memerintahkan pembunuhan bayi-bayi di bawah usia 2 tahun. Kaum ibu menangis di Rama karena raja takut kehilangan takhta. Raja takut kehilangan kuasa. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Bagaimana bisa dikatakan damai, jika orang dapat dibunuh kapan saja, dengan atau tanpa alasan?

Yohanes Pembaptis mati bukan karena khotbah, bukan pula karena makar. Namun karena raja malu menarik titahnya. Tabu baginya menelan ludah sendiri. Kepala Yohanes Pembaptis terpenggal di talam, menjadi sajian bagi Herodias, sang permaisuri tercinta. Bagaimana bisa dikatakan damai, jika nyawa dapat direnggut kapan saja? Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Tak mudah menemukan damai di sana. Bahkan di Bait Allah sekalipun.

Ahli Taurat dan orang Farisi bercokol di sana. Sibuk menafsirkan Taurat sesuka hati dan menuntut setiap orang menaatinya. Semua-mua harus berbau konstitusional. Yang tak sesuai undang-undang harus dilenyapkan. Undang-undang—berkedok agama—demi kepentingan segelintir orang. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)