Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Bait Allah terletak di sana, namun ibadah tak lebih dari ajang bisnis belaka.

Halaman Bait Allah sesak dengan gerombolan pedagang yang menawarkan hewan bagi kurban ritus. Belum lagi aturan persembahan yang harus menggunakan uang kudus—tak ada gambar kaisar—hingga perlu didirikan tempat penukaran uang di sana-sini.

Persembahan menjadi utama. Entah persembahan kurban maupun uang. Yang penting persembahan. Tanpa persembahan, ibadah dianggap tak sah di mata Tuhan.

Tuhan dipandang tak ubahnya pedagang. Tuhan memberkati karena persembahan manusia. Janji Tuhan dapat dituntut karena manusia telah memberi persembahan. Tuhan tak beda dengan pemberi jasa, asal manusia sanggup membayarnya. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun semakin sukar mendapatkan damai di sana.

Yerusalem akan menjadi saksi pengkhianatan seorang sahabat, yang rela menggadaikan sebuah persahabatan manis dengan 30 keping uang perak. Yerusalem juga menjadi saksi penyangkalan seorang murid, yang tunduk, takluk, menyerah di tangan seorang perempuan; yang menghapus kenangan manis dengan serapah, ”Aku tidak kenal pesakitan itu!”

Yerusalem akan menjadi saksi betapa cepatnya sebuah keyakinan berubah. Pujian: ”Hosiana!”, berubah cepat menjadi kecaman: ”Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Semuanya itu keluar dari mulut yang sama, yang sekadar ikut-ikutan tanpa prinsip. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)