Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun tak mudah mencari kedamaian hati di sana. Yerusalem akan menjadi saksi kisah seseorang yang lebih suka melipat tangan ketimbang turun tangan.

Pilatus, yang punya kuasa turun tangan, terlibat dan menegakkan kebenaran, ternyata lebih suka cuci tangan. Tak peduli urusan orang lain. Tak hirau kejahatan berlangsung di depan mata. Yang penting jabatan gubernur tetap dapat disandangnya. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun damai dimengerti hanya bagi diri sendiri, bagi golongan sendiri, dan bagi kepentingan sendiri. Damai dicari hanya untuk kepuasan pribadi.

Yerusalem, kota yang terletak di atas gunung, tak lebih dari sebuah pelita yang ditutup dengan gantang. Terangnya hanya untuk dinikmati sendiri. Hangatnya hanya untuk dirasakan sendiri. Tak hirau nasib orang lain. Kalaupun beribadah, ya beribadah secara pribadi. Yang penting keselamatan pribadi. Orang lain dilirik, sejauh itu menyenangkan dan membawa keuntungan pribadi. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yesus menangisi Yerusalem. Yesus menangisi Herodes Agung. Yesus menangisi Herodes Antipas. Yesus menangisi alim ulama. Yesus menangisi Yudas. Yesus menangisi Petrus. Yesus menangisi penduduk Yerusalem. Yesus menangisi Pilatus.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)