“Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” (Markus 1:40). Permohonan bernada rintihan itu keluar dari mulut seorang penderita kusta saat berjumpa Yesus.

Kita tak kenal orang tersebut. Penulis Injil Markus tak merasa perlu mencantumkan namanya. Bisa jadi, dia kesulitan memperolehnya. Lagi pula, apalah arti sebuah nama bagi penderita kusta.

Mayat Hidup

”Kusta” yang dimaksud bukanlah penyakit yang disebabkan Micobacterium leprae—sebagaimana kita kenal. Tetapi, semacam penyakit akibat jamur yang membuat kulit melepuh merah.

Dalam masyarakat Yahudi waktu itu, penderita kusta dianggap najis. Orang yang bersentuhan dengan penderita akan menjadi najis. Karena itu, mereka harus tinggal di luar kota agar masyarakat tidak tertular kenajisan. Mereka orang buangan. Jika terpaksa berjalan di tengah keramaian, penderita kusta harus berteriak: ”Najis… najis!” agar yang sehat menyingkir.

Jika demikian halnya, apakah nama masih ada artinya? Mungkinkah ada orang yang memanggilnya? Buat apa memanggil namanya? Kalau tersentuh, ’kan malah berabe! Bisa dimaklumi, jika penderita kusta enggan bertemu dengan orang sehat.

Penderita kusta tak ubahnya mayat hidup. Secara jasmaniah hidup, namun dianggap mati. Lebih tepat, dimatikan masyarakatnya. Bahkan, mereka tidak diizinkan mengikuti ibadah karena dianggap tidak bersih. Dengan kata lain, penderita kusta tak pernah beribadah.

Hidup Lahir Batin

Oleh karena itu, orang yang menemui Yesus bisa dikatakan anomali, kekecualian. Jika para penderita kusta lainnya telah patah arang, tinggal tunggu matinya; dia tak mau diam berpangku tangan. Dia ogah dimatikan oleh situasi dan kondisi masyarakat. Dia ingin hidup. Tak hanya lahir, juga batinnya.

Tanpa mengindahkan aturan, dia mendatangi Yesus. Tindakan yang bukan tanpa risiko. Biasanya orang akan menyingkir bila berpapasan dengan penderita kusta. Dia siap ditolak. Tekadnya satu: hidup lahir batin.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)