Wajarlah jika dia tidak meminta Yesus menyembuhkannya. Dia tak hanya ingin sembuh. Dia ingin tahir. Seorang penderita kusta yang telah sembuh tidak serta merta diterima masyarakatnya. Dia harus mendatangi imam untuk mendapatkan sertifikasi perihal kesembuhannya.

Para imamlah yang berhak menentukan apakah mantan penderita itu tahir atau najis. Jika imam tidak menyatakan ketahirannya, dia akan tetap ditolak masyarakat. Itu berarti dia tetap tidak boleh beribadah seumur hidup.

Itu jugalah yang diperintahkan Yesus. ”Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam…” (Markus 1:44). Sekali lagi, tak hanya kesembuhan, dia menginginkan ketahiran.

Memberitakan Kabar Baik

Menarik disimak, dia yakin Yesus sanggup menahirkannya. Agaknya, dia percaya, Yesus tak hanya mampu menyembuhkan, namun berkuasa menahirkan. Bisa dimengerti, jika mantan penderita kusta itu tidak pergi kepada imam.

Kesukacitaan membuatnya tidak langsung pergi kepada imam. Saking girangnya, dia malah memberitakan kabar baik yang dialaminya kepada banyak orang. Akibatnya: Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Sejatinya, dia tidak menaati perintah Yesus.

Mengapa? Bisa jadi dia ingin agar penderita kusta lainnya dapat sembuh sebagaimana dirinya. Dia ingin rekan-rekannya sesama penderita menemui Yesus. Dia memang melanggar perintah Yesus. Namun, Yesus agaknya tidak akan menghukumnya jika berjumpa lagi dengannya.

Sesungguhnya, tak mudah bagi manusia menyembunyikan rasa gembira. Orang yang bersukacita biasanya senang bercerita dan mengajak orang turut bergembira bersama dengannya. Itu pulalah yang dialami mantan penderita kusta.

Atau, kelihatannya dia tidak perlu imam lagi. Di matanya Yesus lebih hebat dari para imam. Yesus sudah menahirkannya. Itulah yang terpenting dalam hidupnya.

– yoel m.indrasmoro

(bersambung)