Bak pemimpin politik, Yesus memasuki kota Yerusalem. Orang-orang, yang mendengar bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, berhamburan keluar. Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: ”Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Markus 11:9).

Hosana merupakan aliterasi dari bahasa Ibrani yang berarti selamatkan kami. Dalam seruan itu tersirat harap: Yesus menyelamatkan Israel dari belenggu Roma. Dan tindakan penyelamatan itu diharapkan muncul dari Pribadi yang mengendarai keledai.

BELAJAR DARI KELEDAI

Ketika mendengar kata ”keledai”, mungkin yang tergambar dalam benak kita ialah binatang lamban, lemah, bahkan bodoh. Gambaran yang tidak sepenuhnya salah.

Dari segi kecepatan, Keledai (Equus asinus) memang tak bisa disamakan dengan kuda (Equus caballus), meski keduanya satu genus. Dalam mekanika dikenal istilah ”tenaga kuda” yang merupakan ukuran kemampuan mesin. Tak ada istilah ”tenaga keledai”. ”Pacuan kuda”—yang sering menjadi ajang judi— juga lebih lazim terdengar ketimbang ”pacuan keledai”.

Ungkapan mengenai keledai, sebagaimana dikemukakan Rama A. Soetanto, SJ dalam lagu ”Keledai” dalam Kidung Ceria 81, banyak benarnya. Dinyatakan dalam lagu tersebut: Keledai binatang yang berjalan lambat-lambat; Keledai takkan lari, walau tak ditambat. Keledai binatang pekerja berat berbeban penuh pun, jalannya tetap: lambat-lambat, lambat-lambat, lambat asal s’lamat.

Keledai memang tak seagresip kuda. Jalannya lambat. Saking lambatnya tampak malas. Tak punya inisiatif. Syair lagu tadi menyatakan bahwa keledai tak akan lari, walau tak ditambat. Kurang berprakarsa kelihatannya.

Ada peribahasa ”Seperti keledai.”Artinya: bodoh atau keras kepala. Ada lagi peribahasa ”Keledai hendak dijadikan kuda.” Artinya: orang bodoh hendak dipandang sebagai orang pandai. Dalam kedua peribahasa itu, keledai dipandang sebagai binatang bodoh. Tak heran, banyak orang tersinggung kala dijuluki: ”keledai”.

Namun, jangan pula kita lupa, ada peribahasa baik tentang keledai: ”Keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.” Peribahasa itu berarti sebodoh-bodohnya keledai, binatang itu toh belajar dari pengalaman.

Kegagalan dijadikannya pelajaran agar tidak terulang lagi. Keledai belajar dari sejarah. Anehnya, manusia (Homo Sapiens ’manusia yang berpikir’) malah sering mengulangi kesalahan yang sama. Manusia agaknya perlu belajar dari keledai perihal memetik kearifan masa lampau.

Hanya itukah? Tidak. Rama Tanto dalam lagunya tadi memuji keledai. Keledai merupakan binatang pekerja berat. Dia bukan pemalas. Jalannya memang lambat, tetapi semua tugas dituntaskannya.

Keledai jelas mempunyai ketahanan kerja tinggi. Aton, bahasa Ibrani untuk keledai, mengacu pada daya tahannya. Dalam sehari keledai sanggup berjalan sejauh 30 kilometer. Meski lambat, keledai konsisten menjalani panggilannya. Dia tidak pernah mutung.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)