Partai-partai telah menyerahkan daftar caleg ke KPU untuk bersaing dalam pemilu 2009. Ada muka lama, tak sedikit muka baru. Makin banyak partai yang menampilkan artis sebagai caleg. Tujuannya: memenangkan pemilu.

Mereka menganggap wajah yang dikenal luas—sering muncul di layar televisi—bisa menjaring suara. Para artis pun tersanjung karena dipercaya mampu memimpin dan berjiwa nasionalis. Mutualisme terjadi. Kloplah!

Kekuasaan memang menggiurkan karena terkandung beragam fasilitas di dalamnya. Adanya anggota DPR yang ”lompat pagar” gamblang memperlihatkan keinginan mengabadikan kuasa. Ujung-ujungnya fasilitas!

Dalam jagad kepemimpinan Indonesia, ungkapan Perancis noblesse oblige ’kewajiban bangsawan terhadap rakyat jelata’ agaknya belum menjadi prinsip. Kepemimpinan sejatinya bukan hanya soal kuasa. Pemimpin bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya.

Dengan kata lain: setiap pemimpin dipanggil untuk menjadi berkat, bukan mencari berkat! Krisis kepemimpinan terjadi tatkala yang memimpin mencari—bahkan memeras—berkat dari yang dipimpin.

Kepemimpinan Musa

Kisah pemanggilan Musa (Kel. 3:1-15) memperlihatkan bahwa kepemimpinan merupakan panggilan. Musa tidak melamar—mengajukan diri—untuk menjadi pemimpin. Dia dipanggil Allah untuk memimpin Israel. Dan Musa menanggapi panggilan tersebut.

Menjadi pemimpin berarti menjawab sebuah panggilan. Karena itu, pemimpin harus bersikap dan bertindak profesional. Tak perlulah kita menyempitkan arti profesional dengan bayaran yang diterima.

Karena sadar akan panggilannya, setiap pemimpin harus mengembangkan diri agar cakap memimpin. Profesional berarti cakap di bidangnya. Kata ”profesional” sekerabat dengan ”profesor”— harfiah bermakna orang yang menyatakan imannya. Panggilan meniscayakan pemimpin menjalankan kewajiban sebagai pernyataan iman.

Pemanggilan Musa juga memperlihatkan, Allah tidak memanggil seorang penganggur untuk terlibat dalam karya-Nya. Musa dipanggil Allah ketika sedang menggembalakan kambing domba Yitro. Dia tidak sedang bertopang dagu, melainkan sibuk bekerja.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)