Pekerja terbiasa bekerja. Orang sibuk sering terbukti lebih mampu mengelola waktu ketimbang penganggur. Persoalannya: banyak penganggur mengajukan diri menjadi pemimpin. Setelah menjadi pemimpin biasanya mereka lebih suka menganggur ketimbang bekerja. Mereka hanya sibuk kala menjelang pemilu.

Mengapa Tuhan memanggil Musa? Pertama, mungkin hanya Musalah—di antara orang Israel seangkatannya—yang selamat dari pembunuhan massal terhadap bayi laki-laki Ibrani atas perintah Firaun. Jalan hidupnya unik berkat strategi ibunya.

Kedua, mungkin pula hanya Musalah—di antara orang Israel—yang mengecap pendidikan tinggi Mesir. Sebagai anak angkat dari puteri Firaun, Musa mendapat hak istimewa untuk mengecap pendidikan. Di antara orang Israel tingkat pengetahuan Musa jauh di atas rata-rata.

Cukupkah itu di mata Allah? Pasti tidak! Banyak orang pintar tak punya nurani.

Dan, ketiga—inilah keistimewaan Musa—dia punya nurani. Kepekaan nurani Musa terlihat saat membela nasib seorang Israel yang dianiaya. Musa tak membiarkan kejahatan berlangsung di depan matanya.

Musa prihatin akan nasib bangsanya. Keprihatinan itu tercermin dalam tindakan membunuh orang Mesir yang telah menganiaya seorang Israel. Musa berani mengambil risiko. Akibatnya: dia harus meninggalkan Mesir dan menjadi pelarian di tanah Midian.

Allah mencari pemimpin yang prihatin. Dia tidak mencari pemimpin berjiwa petualang. Pemimpin kayak begini memang senang tantangan. Namun, saat ada pilihan yang lebih menarik, dia cenderung mengabaikan panggilannya.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)