Keprihatinan

Keprihatinan merupakan modal terbesar seorang pemimpin. Keprihatinan itu pulalah yang menyebabkan orang mau susah, meregang nyawa, untuk  kepentingan orang yang dipimpinnya. Keprihatinan bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan proses dalam diri seorang pemimpin. Allah pulalah yang menumbuhkan keprihatinan itu dalam diri manusia!

Dalam pemanggilan Musa, Allah bersabda: ”Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.”

Kata-kata kerja yang dipakai—”memperhatikan”, ”mendengar”, dan ”mengetahui”—menyatakan bahwa Allah adalah Pribadi yang prihatin terhadap umat-Nya. Allah bukanlah pribadi yang cuek. Allah peduli. Allah yang prihatin mengutus Musa yang juga prihatin.

Keprihatinan merupakan kunci kepemimpinan. Tentunya, bukan keprihatinan yang berpusat pada diri, tetapi keprihatinan yang berasal dari Allah. Bukan keprihatinan pribadi yang dikedepankan, melainkan keprihatinan Allah.

Musa pernah mengalami penolakan ketika bertindak berdasarkan keprihatinannya sendiri. Orang Israel tidak berterima kasih, malah marah dan sinis bertanya, ”Siapa yang mengangkat engkau sebagai pemimpin kami?”

Tampaknya, mereka menduga Musa tengah menjalankan agenda pribadi. Tindakan Musa disalahartikan. Di mata orang Israel, tindakan Musa itu terkesan demonstratif dan sok pamer.

Penolakan itulah yang membuat Musa frustasi. Dia memang punya keprihatinan, namun dianggap menobatkan diri sendiri menjadi pemimpin. Pemimpin sejati tidak mengangkat dirinya sendiri. Hanya diktatorlah yang melakukannya.

Tak heran, Musa pulalah yang berkata: ”Siapakah Aku?” sewaktu Allah memanggilnya. Kalimat ”Siapakah Aku?” merupakan cerminan ketakpercayaan diri.

Saat Musa menjadikan keprihatinan Allah sebagai keprihatinannya sendiri, dia menjadi lebih percaya diri. Sewaktu Musa menjadikan kehendak Tuhan sebagai kehendak dirinya, orang Israel lebih mudah menerima kepemimpinannya.

Seorang pemimpin harus memperlihatkan diri sepi pamrih—‘tiada udang di balik batu’—di hadapan orang yang dipimpinnya. Hanya dengan itulah kepemimpinan sungguh menjadi berkat.

Kepemimpinan sungguh menjadi berkat saat pemimpin mau mengutamakan kehendak Allah. Itu berarti pemimpin tidak mencari berkat dari yang dipimpinnya, melainkan menjadi berkat bagi mereka. Itulah kepemimpinan sejati!

– yoel m. indrasmoro