TINGGAL DI DALAM KRISTUS

Mungkin, kita berkata dalam hati: ”Ah, Filipus enak! Tuhan berbicara langsung dengannya. Lalu, bagaimana dengan kita yang tidak mendengarkan suara Tuhan secara langsung? Bagaimana kita mau taat?”

Sejatinya, butuh kepekaan dalam mendengarkan suara Tuhan. Mungkin kita tak pernah langsung mendengar-Nya. Tuhan bisa berfirman melalui manusia lain, juga alam. Persoalannya: peka atau tidak? Dan satu-satunya syarat untuk peka terhadap kehendak Tuhan, menurut Injil Yohanes, adalah tinggal di dalam Kristus (Yoh. 15:1-8).

Pengalaman manusiawi membuktikan, kita hanya sungguh memahami seseorang jika kita mengenalnya. Bahkan, kita tahu bagaimana perasaan orang itu, apa yang diinginkannya, dari bahasa tubuhnya saja. Pengenalan akan membuat kita peka terhadap keinginannya. Pengenalan terjadi saat kita bergaul akrab dengannya.

Atau, kita bisa merangkai tanya:”Apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan sekarang ini? Mengapa saya berada di sini? Apa maksud Tuhan mengizinkan saya berada pada posisi ini?” Dengan kata lain, kita berupaya menjadikan kehendak Tuhan sebagai yang utama.

Hanya dengan cara begini kita akan berbuah. Artinya: hidup kita berbuah bagi orang lain. Sehingga mereka memahami kasih Kristus. Semuanya itu terjadi jika kita tetap tetap di dalam Kristus. Sebab di luar Dia, kita tak dapat berbuat apa-apa.

Selamat berbuah!

– yoel m. indrasmoro