Hari Pentakosta 31 Mei 2009
(YOH. 15:26-27; 16:4B-15)

Siapakah sesungguhnya Roh Kudus itu? Pribadi ketiga Allah Tritunggal tersebut memang sering kurang dipahami. Akibatnya, sering disalah mengerti. Tak sedikit orang yang menganggapnya sekadar kuasa. Jika tidak tampak kuasa-Nya—bisa lewat bahasa lidah atau penyembuhan—maka terkesan bahwa sebuah gereja tidak ada Roh Kudusnya.

Di sisi lain, guru-guru Sekolah Minggu pun—atau pengasuh ibadah anak—lebih banyak bercerita tentang Allah Bapa dan Allah Anak. Allah Roh Kudus kurang mendapat tempat. Bisa jadi, karena keberadaan-Nya sebagai roh membuat Pribadi Ketiga Allah Tritunggal itu sulit digambarkan dengan kata-kata. Terlalu abstrak ketimbang Allah Bapa dan Allah Anak.

Di hari Pentakosta ini marilah kita kembali memahami pribadi Allah Roh Kudus. Sekali lagi, agar kita tidak salah mengerti. Dan sumber yang paling dapat kita andalkan ialah Yesus Kristus, Allah Anak, itu sendiri.

Pertama, Yesus menegaskan bahwa Roh Kudus adalah Penghibur. Penghibur di sini bukanlah penghibur—entah penyanyi, pelawak, atau pesulap—yang gemar memberi hiburan semu. Hiburan yang diberikan juga bukan ekstasi. Artinya, seketika orang gembira luar biasa dan melupakan persoalannya, namun sesudah itu dia menjadi frustasi karena persoalan tetap ada.

Bentuk hiburan yang diberikan Roh Kudus bukanlah dengan cara meninggalkan atau melupakan persoalan. Tidak. Sebab, dengan demikian persoalan tetap ada. Tetapi, yang bentuk hiburan yang ditawarkan Roh Kudus adalah penyertaan-Nya.

Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) mempunyai sebutan lain, yakni Penolong. Dengan demikian, Roh Kudus adalah Roh yang senantiasa menolong. Namun, itu tidak berarti kita hanya diam berpangku tangan. Tidak. Tetapi, bersama dengan Roh Kudus, kita menyelesaikan persoalan tersebut.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)