Inilah penyertaan itu. Roh Kudus bersama-sama dengan manusia menyelesaikan dengan tuntas setiap persoalan yang ada. Di ruang kerja saya terdapat sebuah lukisan Alkitab, Salib, dan bunga dengan sebuah doa di kanan bawah. Doanya demikian: ”Tuhan tolong saya untuk ingat bahwa tak ada satu kejadian pun yang tidak dapat saya tangani bersama dengan Engkau pada hari ini.”

Lagi pula, janganlah kita lupa bahwa tak ada soal yang tidak ada jawabannya. Pengalaman kita dalam dunia pendidikan membuktikan hal itu. Belum mendapatkan jawaban bukan berarti tidak ada jawaban. Kemungkinan terbesar kita memang belum menemukannya.

Bahkan, salah soal pun masih ada jawabannya. Jika dalam soal pilihan berganda tidak ada jawabannya, maka pada lembar jawaban kita bisa memberi catatan: “Kelihatannya salah soal, saya memberikan alternatif jawabannya di sini.”

Kedua, karya Roh Kudus pun khusus. Kepada para murid-Nya, Yesus berkata, ”Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Roh Kudus adalah Pengajar. Apa yang diajarkan-Nya? Segala sesuatu yang sungguh-sungguh penting dalam hidup manusia. Masalahnya, maukah kita diajar oleh-Nya? Maukah kita terbuka dengan segala pengajaran-Nya. Jangan-jangan, kita merasa terlalu pintar untuk mendengarkan ajaran-Nya.

Oleh karena itu, selama berabad-abad gereja memanjatkan doa epiklese: doa meminta pertolongan Roh Kudus. Doa epiklese, doa minta pertolongan Roh Kudus sebelum membaca Alkitab, bukan basa-basi. Juga bukan sekadar ritual. Sejatinya, doa epiklese merupakan pengakuan bahwa manusia itu terbatas. Oleh karena itu, kita memohon pertolongan Roh Kudus.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)