Tak mengherankan jika Paulus berkata dalam suratnya kepada jemaat di Roma: ”Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus.” (Rm. 8:26-27).

Di sini persoalan umum kebanyakan doa Kristen. Tak sedikit  orang berpendapat bahwa pokoknya minta saja kepada Tuhan, pasti Dia mendengarkan dan akan diberikan. Banyak orang berpendapat mintalah, maka kamu akan diberi! Pertanyaannya: apakah memang benar demikian? Dan akhirnya tidak sedikit yang merasa frustasi karena Tuhan tidak menjawab doanya.

Lalu, doa seperti apakah yang dijawab Tuhan? Jawabnya: yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Nah, di sinilah persoalannya! Kita sering tidak sungguh-sungguh tahu apa kehendak Tuhan itu. Sehingga, Paulus berkata dengan jujur bahwa manusia sejatinya sering tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa. Ketika tidak seturut kehendak Tuhan, pastilah tidak dijawab oleh Tuhan.

Dalam buku Berserulah Kepadaku, Jim Cymbala, menulis: ”Kita harus senantiasa ingat bahwa doa akan didengar dan dijawab hanya jika kita menuruti ’aturan rumah’. Ini bukan hal merasakan sesuatu, melainkan hal sejalan dengan cara Allah melakukan sesuatu, dengan jalan-Nya, mencapai tujuan-Nya. Kita tidak pernah bisa memakai Allah ketika kita berdoa sebab cara itu akan menjadikan Dia sebagai budak kita dan menjadikan kita sebagai penguasa alam semesta. Kita harus meminta sesuai dengan kehendak Allah.”

Di sinilah, kerelaan dipimpin Roh menjadi semakin penting dan bermakna dalam hidup. Oleh karena itu, marilah kita bermadah: ”Roh Kudus turunlah dan tinggal dalam hatiku, dengan cahaya kasih-Mu terangi jalanku! Api-Mulah pembakar jiwaku, sehingga hidupku memuliakan Tuhanku.” (KJ 233:1)

– yoel m. indrasmoro