”Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus.” (Markus 7:24). Sang Guru memang gemar bergerak. Dia tak mau diam. Dia suka berkarya.

Di awal Injilnya, Markus juga mencatat bagaimana Yesus bangun ketika hari masih gelap dan berdoa (Markus 1:35). Sang Guru biasa memulai hari dengan doa.

Setelah itu, bak mentari Yesus bergerak. Dia senantiasa ingin melakukan sesuatu: bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain.

KE DAERAH TIRUS
Catatan Penginjil Markus tadi memperlihatkan Yesus sebagai pribadi merdeka. Dia bebas bergerak. Dia tidak bergerak menurut kata orang. Bahkan, gerakannya melampaui garis demarkasi yang dibuat orang pada masa itu.

Frasa ”pergi ke daerah Tirus” berarti melangkahkan kaki ke tempat yang dianggap kafir. Itu bukan perkara biasa. Kebanyakan orang Yahudi menganggap diri umat pilihan. Untuk mempertahankan status tersebut, mereka berupaya untuk tidak tercemar. Mereka segan bergaul dengan bangsa non-Yahudi. Sekali lagi, takut tercemar.

Yesus berbeda. Guru dari Nazaret itu sengaja menjejakkan kaki-Nya di Tirus. Dia tak takut tercemar, bahkan berkarya di ”wilayah kafir”.

Di mata-Nya semua orang sama: sama-sama ciptaan Allah. Karena itulah, tak seorang pun berhak membeda-bedakan orang. Sikap membeda-bedakan berarti menghina Allah, yang telah menciptakan mereka.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)