Pada salib tampaklah keadilan sekaligus kasih Allah. Salib menyatakan keadilan Allah. Upah dosa adalah maut. Kejahatan ada sanksinya. Manusia berdosa dan mautlah upahnya.

Allah membenci dosa, namun mengasihi manusia berdosa. Allah menghendaki kehidupan, dan bukan kematian, manusia. Karena itulah, Yesus, manusia nirdosa, menanggung upah dosa. Dia mati agar manusia hidup.

Itulah keadilan sekaligus kasih Allah. Salib menyatakan keadilan sekaligus kasih Allah. Itulah jalan yang ditempuh Yesus—Allah yang menjadi manusia.
Dari sudut pandang manusia, Yesus merupakan korban, bahkan tumbal, persekongkolan antara pemerintah dan kaum agamawan.

Kaum agamawan, yang merasa mendapat saingan baru, berusaha menyingkirkan-Nya melalui tangan pemerintah. Pontius Pilatus lebih suka menggugu pendapat orang banyak, yang telah dihasut, agar langgeng kedudukannya.

Namun, dari sudut pandang Allah, Yesus adalah kurban. Yesus mempersembahkan diri-Nya. Yesus menjadikan diri-Nya pengganti umat dalam menanggung upah dosa. Yesus tidak menghindari salib. Dia taat menjalani panggilan-Nya sebagai kurban sempurna.

Pertanyaan yang layak diajukan: Mengapa? Pertanyaan itu pulalah mengemuka dalam syair (Nyanyikanlah Kidung Baru 85:1) berikut:

Mengapa Yesus turun dari sorga, masuk dunia g’lap penuh cela,
berdoa dan bergumul dalam taman, cawan pahit pun dit’rima-Nya.
Mengapa Yesus menderita didera, dan mahkota duri pun dipakai-Nya?
Mengapa Yesus mati bagi saya? Kasih-Nya, ya kar’na kasih-Nya?

Sang penyair, E.G. Heidelberg, sejatinya mengumandangkan kembali pertanyaan-pertanyaan insan, yang diawali dengan tiga kata mengapa. Mengapa Yesus menjadi manusia? Mengapa Yesus disalib? Dan, mengapa Yesus mati bagi saya?

– yoel m indrasmoro

(bersambung)