Demikianlah pertanyaan manusia sepanjang abad. Mengapa Allah mati? Bukankah Allah berkuasa memutihkan dosa semua manusia dalam sekejap? Mengapa harus salib?

Allah berkuasa, namun tak mau melakukannya. Jika Allah melakukannya, maka Dia mengingkari kata-kata-Nya: upah dosa adalah maut. Jika Allah melakukannya, keselamatan itu, mengutip Bonhoeffer, menjadi murahan sifatnya. Manusia akan meremehkan keselamatan itu. Jika Allah melakukannya, manusia tak beda dengan wayang yang takluk di tangan dalang. Manusia tak lagi punya pilihan terhadap keselamatan Allah itu.

Jalan salib adalah jalan yang sengaja ditempuh Yesus. Memang bukan jalan gampang. Namun, Yesus melakoninya. Visi-Nya memang untuk mati. Dan semuanya itu bertumpu pada satu kata: kasih.

Itulah satu-satunya alasan bagi Allah menempuh via dolorosa, jalan sengsara. Dan hanya karena itulah, kita menjadi sembuh.

Mengapa salib?

Kasih-Nya, ya kar’na kasih-Nya.

– yoel m. indrasmoro