Sudah jatuh ketimpa tangga, lalu koma. Ungkapan itu agaknya cocok menggambarkan hidup Ayub.

Kitab Ayub dibuka dengan kelimpahan: ”Di tanah Us tinggallah seorang laki-laki yang bernama Ayub. Ia menyembah Allah dan setia kepada-Nya. Ia orang yang baik budi dan tidak berbuat kejahatan sedikit pun. Ia mempunyai tujuh orang anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Di samping itu ia mempunyai banyak budak-budak, 7.000 ekor domba, 3.000 ekor unta, 1.000 ekor sapi, dan 500 ekor keledai. Pendek kata, dia adalah orang yang paling kaya di antara penduduk daerah Timur.” (Ayub 1:1-3, BIMK).

Namun, semua musnah dalam sekejap. Yang tersisa hanyalah Ayub dan istrinya. Ayub jatuh miskin, juga tanpa keturunan. Tanpa keturunan berarti pula tiada masa depan.

Kejatuhannya tak cuma sampai di situ. Borok pun menimpa di seluruh tubuhnya. Begitu gatalnya hingga Ayub merasa perlu mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya. Sudah jatuh ketimpa tangga. Harta tiada, tubuh pun menderita.

Penderitaan makin bertambah. Sang istri yang sangat mengenal tabiat suami tak bisa menahan lidahnya. Dia merasa perlu berpendapat: ”Mana bisa engkau masih tetap setia kepada Allah? Ayo, kutukilah Dia, lalu matilah!” (Ayub 2:9, BIMK).

Sang istri tak lagi mampu menahan emosinya. Agaknya dia tidak lagi mampu bertahan melihat penderitaan suaminya. Sudah jatuh ketimpa tangga, lalu koma.

SANGAT MENGENAL DAN MENGASIHI SUAMI
Meski demikian, janganlah kita buru-buru menyalahkannya. Bagaimanapun, sang istri sangat mengenal suaminya. Dia tahu persis, Ayub tidak melakukan satu kesalahan pun yang membuatnya harus menderita.

Sang istri berbeda dengan para sahabat Ayub, yang meyakini bahwa Allah Mahaadil sehingga tidak mungkin membiarkan orang benar menderita. Keyakinan itu membuat mereka terus memaksa-maksa Ayub mengakui dosanya.

Sang istri mengenal suaminya luar dalam. Dia tahu keseharian Ayub. Dalam pandangannya, yang patut dipersalahkan bukan Ayub, melainkan Allah. Lalu buat apa Ayub setia kepada-Nya, mendingan bunuh diri.

Istri Ayub tak mampu memahami dan menerima apa yang terjadi pada suaminya. Kala mereka kehilangan harta dan anak, istri Ayub masih mampu bertahan. Tak terlontar satu kata pun dari bibirnya. Dia juga tidak meminta cerai dari Ayub.

Tampaknya sang istri pun setuju saat suaminya berkata: ”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21).

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)