Memang bukan perkara gampang karena orang lebih senang mendengarkan apa yang ia ingin dengar. Orang kadang, atau sering, jengah mendengarkan kebenaran. Apa lagi jika kebenaran itu menyakitkan hatinya.

Itu jugalah yang dinyatakan Yesus kepada para murid Yohanes Pembaptis, yang bertanya perihal kemesiasan-Nya: ”Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat:  orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” (Matius 11:4-5).

Para murid Yohanes Pembaptis itu harus menyatakan kebenaran— yang mereka lihat dan dengar —apa adanya. Mereka tidak boleh bicara seturut kehendak orang. Mereka juga tidak boleh bicara sekehendak hati sendiri. Mereka hanya boleh bicara seturut kehendak Tuhan.

Persoalannya acap di sini. Seberapa jauh kita menyatakan apa yang Tuhan ingin kita katakan. Misalnya: dalam sebuah rapat gerejawi, apakah kita sungguh mengupayakan untuk mengumandangkan suara Tuhan? Apakah saat kita bicara, kata-kata itu merupakan suara Allah? Jika itu sungguh suara Allah, maukah kita mendengarkannya dan menaatinya?

Di kalangan gereja reformasi, semua orang percaya adalah nabi, raja, dan imam. Setiap Kristen adalah nabi—Jurubicara Allah! Setiap Kristen dipanggil pula untuk mengumandangkan suara Allah.

Pertanyaannya: Maukah kita mengumandangkan suara Allah, meski menyakitkan telinga orang lain? Maukah kita mengumandangkan suara Allah, meski hal itu membuat kita tersingkir? Maukah kita mengumandangkan suara Allah, meski menyakitkan diri kita sendiri?

Berkait situasi Indonesia kini, setiap pemimpin Kristen dipanggil pula untuk mengumandangkan suara Allah. Mengumandangkan suara Allah berarti menyatakan kebenaran— bukan menurut manusia, tetapi menurut Allah. Untuk satu tujuan: kemuliaan Allah.

Itu berarti belajar bersikap dan bertindak sebagaimana Yeremia!

– yoel m. indrasmoro