Dalam buku Champion ada cerita tentang seorang bapak tua dan kawanan angsa liar. Bapak tua hidup di pinggir danau yang setiap musim dingin menjadi tempat persinggahan sementara kawanan angsa liar, sebelum terbang ke daerah yang hangat. Suatu hari, badai dingin menghantam danau itu sehingga beberapa angsa terperangkap tanpa makanan. Si bapak tua merasa kasihan terhadap mereka lalu memberikan makan kepada kawanan itu setiap hari.

Kemurahan hati bapak tua itu dinikmati bahkan juga oleh lebih banyak angsa yang lain. Lambat laun, kawanan angsa itu lupa bahwa mereka semestinya sudah harus terbang ke tempat yang lebih hangat, tapi mereka memilih makanan gratis di situ. Suatu hari dalam musim dingin itu, si bapak tua jatuh sakit lalu meninggal dunia. Tanpa ada orang lain yang memberi makan, ratusan angsa-angsa malas itu akhirnya mati kelaparan!

Kebiasaan buruk dimulai dengan suatu kesempatan mudah demi kesempatan mudah, akhirnya menjadi kebiasaan permanen. Seperti kawanan angsa liar yang lupa diri dan membentuk kebiasaan buruk yang membahayakan jiwanya, demikian pula sikap hidup para pengikut Kristus menjelang kedatangan Tuhan yang sangat penting itu! Kita tidak fokus kepada Kristus, tetapi pada diri sendiri dan sekeliling kita. Tidak mengutamakan kesehatan rohani, tapi merusak hidup dengan berbagai kenikmatan dan hidup dosa.

Manusia patut bersyukur sebab sering diperingatkan oleh Bapa Surgawi

Dalam Alkitab dapat kita jumpai banyak bagian, banyak cara dan orang yang dipakai Tuhan untuk menegur kealpaan kita. Di hadapan Tuhan kita sering menjadi seperti anak-anak kecil yang tenggelam dalam keasyikan bermain yang berlebihan, atau yang mengandung bahaya! Coba bayangkan, andai kita menyangka hidup yang kita jalani wajar-wajar saja, padahal sebenarnya tidak diperkenan oleh Allah karena  sesat dan bertentangan dengan Firman Tuhan. Maka  kita patut bersyukur bahwa ada Allah yang peduli, mau menyapa, menegur dan memperingatkan kita supaya bertobat!

– daud adiprasetya

lanjut…