MENGUJI KEBENARAN
Nubuat Amos jelas menyakitkan. Dan nubuat itu bertentangan dengan pendapat para imam di Betel. Perbedaan itu jelas membingungkan dan meresahkan umat. Mana yang benar?

Di sinilah persoalannya: Amazia tak lagi mempertanyakan mana yang benar. Di mata Amazia, imam di Betel itu, Amos merupakan saingan, bahkan musuh. Ketimbang mengujinya, Amazia lebih suka berkolaborasi dengan pemerintah. Amazia lebih suka menggunakan tangan raja untuk menggebuk Amos.

Daripada mendiskusikan kehendak Allah—apa yang benar di mata-Nya—Amazia lebih suka mengusir Amos. ”Hai nabi, pulanglah ke Yehuda! Berkhotbahlah di sana. Biarlah mereka yang memberi nafkah kepadamu! Jangan lagi berkhotbah di Betel. Kota ini khusus untuk raja, dan tempat ibadah nasional.” (Amos 7:12-13, BIMK).

Sejatinya, ada kontradiksi dalam ucapan Amazia. Bagaimanapun, Amazia mengakui bahwa Amos adalah nabi. Imam di Betel itu menyadari, Amos sedang bernubuat. Namun, dia ingin Amos tidak bernubuat di Betel, tetapi di tanah kelahirannya, Yehuda. Amazia melihat Amos sebagai saingan. Kalau sudah begini, apa yang dikatakan Amos sudah tak penting lagi.

Dalam hubungan dengan orang lain, seseorang kadang lebih suka mengutamakan persona ketimbang kata-katanya. Perkataan tidak penting lagi.

Namun, berkait Firman Allah, bukan siapa yang menyampaikan, tetapi apa yang disampaikannya! The song, not the singer! Yang terutama bukanlah siapa yang berkhotbah, tetapi apa yang dikhotbahkannya? Khotbah lebih utama ketimbang sang pengkhotbah!

– yoel m. indrasmoro

lanjut…